Jumat, 19 Juli 2013

Jalan Pake Tangan dan Lutut, Siapa Takut!?



Berjalan dengan kedua tangan dan lututnya adalah aktfitas si 6-10 bulan. Walaupun tak wajib, kegiatan ini bermanfaat sekali untuk pertumbuhan bayi.

Apa saja ya Bunda manfaatnya?
  • Menguatkan leher, tangan, sendi dan otot.
  • Menguatkan otot besar dan kecil, mengahaluskan kemampuan motorik kasar dan halus.
  • Menunjang koordinasi mata dengan tangan, kekuatan, tegangan otot, keseimbangan, keterampilan jari.
  • Melatih kedua belahan otak. Gerakan menyilang saat merangkak merangsang memperkuat dan mengintegrasikan kedua belahan otak atau area-area yang berbeda pada otak. Sekaligus membantu mengoordinasi penggunaan kedua belah mata, telinga, tangan dan kaki secara simultan.
  • Meningkatkan produksi myelin di otak. Gerakan menyilang saat merangkak memungkinkan kedua belahan otak berbagi, menyimpan dan mengeluarkan kembali informasi inderawi penting dengan lebih cepat. Merangkak meningkatkan produksi myelin, zat yang melapisi sel saraf, yang membantu otak mengirim dan menerima pesan lebih cepat da jelas. Merangkak akan merangsang pula bagian otak ‘reseptif dan ‘ekspresif.’
  • Mengembangkan sambungan jaringan syaraf. Gerakan berulang-ulang saat merangkak merangsang, mengorganisir dan mengembangkan sambungan jaringan saraf otak sehingga, otak lebih efisien dalam mengontrol proses kognitif seperti pemahaman, konsentrasi dan ingatan.
  • Membantu perkembangan dan pemahan bahasa, sebab bayi dirangsang menggunakan kedua telinga secara simultan dan mengembangkan pendengaran kedua telinga.
  • Merangsang kepekaan taktil (sentuhan), kepekaan visual dan kepekaan terhadap jarak jauh-dekat.
Merangkak juga butuh ketangguhan dan keberanian karena banyak bayi takut merangkak gara-gara saat belajar tidak dibantu, akibatnya sering terjatuh.

Beberapa bayi melewatkan fase merangkak ini. Biasanya, disebabkan kurangnya stimulasi atau kesempatan pada bayi untuk merangkak lantaran terlalu sering digendong misalnya.

Lalu gimana caranya supaya bayi tidak melewatkan tahapan merangkaknya?

1. Lebih sering menengkurapkan bayi di lantai beralas matras. Biarkan bayi mengangkat tubuhnya sendiri dengan kedua tangan dan kakinya. Biasanya ia akan berusaha menggerakkan kedua kaki dan tangannya untuk melangkah.

2. Jangan terlalu sering menggendong bayi, meletakkannya di stroller, atau di sepeda roda tiga. Berikan waktu lebih banyak untuk bayi berada di atas lantai beralas matras.

3. Letakkan benda atau mainan yang menarik perhatian si kecil di hadapannya. Cara ini akan merangsang bayi untuk bergerak. Rangsang bayi untuk merangkak, bukan merayap atau mengesot.

4. Contohkan cara merangkak. Ikutlah merangkak bersama si kecil.



Sumber:  http://female.kompas.com, http://olvista.com, http://www.ayahbunda.co.id

Selasa, 16 Juli 2013

Si Pemilih Makanan



Gimana kabar balita Mama hari ini? Sudah makankah ia? Lancar-lancar aja, atau bikin drama dulu Ma?.. Wah, kalo ampe bikin drama dulu, pusing juga pastinya ya Bun?

Banyak ibu yang punya balita susah makan atau picky eater . Apa ya penyebabya? Boleh jadi kita yang memberi makan yag salah. Kok bisa?

Dr Aryono Hendarto, Divisi Nutrisi & Penyakit Metabolik Departemen Ilmu Kesehatan Anak FKUI mengatakan, " Dalam istilah medis, kesulitan makan adalah perilaku ketidakmampuan bayi/anak mengonsumsi makanan menggunakan mulut secara sukarela."
 
Tipe si picky eater beda-beda. Ada yang makan terlalu sedikit, hanya mau makan jenis makanan tertentu, tidak mau mencoba makanan baru, sedikit mengonsumsi buah dan sayur, marah saat waktu makan tiba, menghabiskan makan/minum dalam waktu lama, terlalu menyukai makanan tertentu, memilih minum ketimbang makan.
 
Survey HarrisInteractive, Amerika Serikat menunjukkan, 43% ibu di Indonesia mengeluh anaknya picky eater. Dari responden tadi, 40% terjadi pada anak usia 1-10 tahun. Padahal, pada masa itu buah hati memerlukan nutrisi cukup untuk menunjang pertumbuhannya. ”Anak usia 5 tahun yang tergolong picky eater ditemukan lebih pendek, berat badan kurang, sembelit. Penyebabnya, mereka mengonsumsi lebih sedikit nutrisi dan mikronutrien” kata Aryo.

Kalau sudah begini, ibu mana yang tak khawatir?

Menurut Aryo, ada tiga hal yang mempengaruhi pemberian makan (feeding), yaitu interaksi, kultur dan temperamen. Ternyata, makan itu tak sekadar melengkapi nutrisi. Saat proses feeding, terjadi interaksi, seperti menatap matanya, mengajaknya berkomunikasi, bermain dan proses menyenangkan lainnya. Interaksi yang aman, nyaman akan membuat proses makan menjadi mudah. Proses ini juga membuat anak belajar dan meniru kebiasaan feeder.

Fenomena saat ini, si pemberi makan—orangtua—cenderung memberikan pendekatan yang salah. Contohnya, memaksa, mudah marah, tidak sabar. Alhasil, si anak melakukan aksi gerakan tutup mulut. “Makan itu bukan naluri tapi proses belajar. Sama seperti ketika ia belajar berjalan,” katanya.
Padahal saat anak menolak makan, bisa jadi dia sedang sariawan. Beberapa faktor anak tergolong picky eater di antaranya, penyakit organik, salah persepsi, trauma, cholic (gangguan usus). Atau, ditelantarkan. Maksudnya, ia sudah lapar tapi Anda malah asyik nonton TV.

Cermati kebiasaan batita usia 1-3 tahun. Nafsu makannya cenderung menurun karena ia sedang mengalami masa transisi dengan pola makan orang dewasa. “Jadi, bantulah ia dengan membangun rasa makanan yang sehat. Bukan malah dicekoki,” katanya. Sebenarnya, lanjut Aryo, muaranya ada pada cara orangtua memberi makan.

Tjhin Wiguna, psikiater anak dari FKUI/RSCM membenarkan, proses pemberian makan yang baik berdampak pada kesehatan fisik, psikologi dan emosi anak. “Kalau picky eater dibiarkan, kelak ia cenderung sulit berinteraksi dan pilih teman,” ujar Tjhin.

Apa yag harus dilakukan pada si picky eater?

Ketika anak tergolong picky eater dan Anda sudah kehabisan cara merayunya, segera konsultasi ke dokter. Kenali tanda-tandanya, seperti berat badan turun atau tidak pernah naik,  pertumbuhannya lebih lambat dari anak normal, selalu terlihat lelah, mudah sakit dan terinfeksi.

Selanjutnya, sambung Aryo, dokter mengarahkan pembentukan perilaku si kecil dan memberi suplemen. Tak kalah penting, mengedukasi orangtuanya. Yaitu, sambung Aryo, mengajarkan bahwa proses makan bukan berupa pemaksaan. Orangtua juga harus mengerti tentang cara mengatur ekspektasi pertumbuhan dan nutrisi. Mereka juga dituntut memahami prinsip feeding. Bisa, kan, Bunda?

Menerapkan aturan makan

1. Hindari tawar menawar agar anak mau makan. Misal, sambil nonton, diberi boneka. Ingat, makan itu harus dalam lingkungan tenang.

2. Bersikap netral. Hindari pujian, kritik, rangsangan berlebihan, apalagi pemaksaan.

3. Beri makan pada selang waktu tertentu dan hindari ngemil untuk mendorong nafsu makan. Makan 3-4 jam terpisah dan tak ada pemberian makanan di antaranya.

4. Berikan makanan sesuai usia.

5. Batasi durasi makan. Pemberian makanan seharusnya 20-30 menit, dan disiplin. Lebih dari 30 menit berarti ia mengemut. Lebih baik, tunggu dia kembali lapar lalu kita beri makan.

6. Perkenalkan satu makanan baru dalam satu waktu. Ekspos anak dengan makanan baru tadi hingga 15 kali sebelum ia memastikan tidak menyukainya.

7. Mendorongnya makan mandiri. Selain melatih motorik, ini cara terbaik mencegah masalah feeding pada anak. Sediakan makanan sehat dan beragam.

8. Bertoleransi dengan situasi yang berantakan saat makan sesuai usianya. Biasakan makan di meja makan bersama seluruh anggota keluarga.


Mudah-mudahan si kecil jadi doyan makan ya Bunda...  :)   



Sumber: http://www.ummi-online.com, http://www.sheknows.com

Senin, 15 Juli 2013

Baby Walker, Perlukah?



Hampir semua ibu-ibu kenal ya dengan benda  yang satu ini. Biasanya ia dipake untuk mempermudah si kecil belajar jalan atau biar anteng saat mama harus mengerjakan pekerjaan lain seperti memasak misalnya. Kan ga perlu direpotin jika si kecil merangkak kesana-kemari.

Betulkah? Amankah memakai baby walker ini?

Dr. Karel A.L. Staa, MD, spesialis anak dari RS Pondok Indah Jakarta mengatakan setidaknya ada dua hal yang perlu disorot dalam memutuskan apakah akan menggunakan baby walker atau tidak. Pertama soal keamanan, dan kedua soal perkembangan motorik anak.

American Academy of Pediatric (APP) mengungkapkan bahwa pengunaan baby walker bisa mendatangkan kecelakaan atau cedera pada bayi. Di tahun 1999 di Amerika Serikat dilaporkan sekitar 8.800 bayi usia 15 bulan masuk rumah sakit karena menggunakan baby walker. Dan dalam rentang tahun 1973-1998 tercatat 34 bayi meninggal karena alat ini. Tak terelakkan, fakta ini membuat baby walker menuai pro dan kontra selama berbilang tahun. 


Memang ada banyak anak memakai baby walker dan aman-aman saja. Sebaiknbya jangan buru-buru mengambil kesimpulan sebelum mendengar pendapat ahli.  Karel  mengatakan kata “aman-aman saja” tidak bisa dijadikan patokan bahwa baby walker benar-benar aman untuk anak. “Ibarat berjalan di lantai yang licin. Ada anak yang terjatuh ada yang selamat. Toh, kita tidak bisa mengatakan lantai licin itu tidak berbahaya bagi anak. Begitu juga dengan penggunaan baby walker,” kata Karel.

Salah satu penyebab kecelakaan ketika menggunakan baby walker adalah anak dapat bergerak leluasa, sehingga bisa menggelinding di tangga, terjepit daun pintu, atau menjangkau benda-benda berbahaya bagi anak (seperti gunting, pisau, gelas berisi air panas). Ada juga orang tua yang berpendapat bahwa boleh saja menggunakan baby walker selama anak diawasi. Kenyataannya penelitian menunjukkan mayoritas kecelakaan akibat baby walker terjadi disaat anak dalam pengawasan orang tua maupun pengasuh. Ini karena baby walker memungkinkan anak bergerak cukup cepat, rata-rata 1-3 meter perdetik. Anak terlanjur bergerak ke arah yang membahayakannya sebelum pengawas sempat menghentikannya.

Jika menggunakan baby walker dengan harapan mempemudah atau mempercepat anak untuk bisa berjalan, kenyataannya tidak demikian. Karel mengatakan baby walker berpotensi mengganggu perkembangan motorik kaki anak. Sebab, untuk bergerak anak hanya perlu menggunakan sebagian serabut motorik otot kaki. Misal dengan menggerakkan ujung jari dan mengandalkan otot-otot betis, dalam posisi duduk sekalipun, anak bisa berpindah tempat. 

Sementara untuk bisa berjalan dengan benar dan lancar, anak perlu melatih otot paha dan pinggul. Dan ini sering tidak terpenuhi bila anak dibiasakan bermain dengan baby walker. Akibatnya otot tungkai tidak terlatih untuk menyangga tubuh anak saat berjalan. Anak jadi sering jatuh. Hal ini bisa menimbulkan trauma yang membuat anak takut melangkah, dan akhirnya membuat dia lambat pandai berjalan. Ditambah lagi ada efek psikologis yang membuat anak malas berjalan mandiri karena baby walker membuatnya terbiasa bergerak ke sana kemari tanpa susah payah menjejakan kaki di lantai.

Baby walker juga dicurigai sebagai salah satu penyebab kelainan kaki pada anak. Pasalnya duduk mengangkang di dalam baby walker bisa menyebabkan kelainan tulang paha. Para ahli menduga banyaknya anak berjalan seperti bebek atau mengangkang karena pengaruh baby walker.

“Bila ingin melatih motorik kaki, lebih baik anak dilepas di lantai dan belajar berjalan secara alami dengan kaki terlanjang,” kata Karel. Cara ini bisa melatih seluruh serabut motorik otot, mulai dari otot betis, paha, sampai pinggul, juga membantu merangsang koordinasi jemari kaki,  sehingga memembuat anak bisa berjalan dengan lebih baik. Jika anak mengalami jatuh bangun, itu hal biasa yang justru memberi pengalaman pada anak untuk tidak mudah menyerah. 

Tentunya belajar berjalan secara alami ini membutuhkan bantuan dan pengawasan orang tua. Ada beberapa persiapan sederhana yang perlu dilakukan, seperti memastikan lantai dalam keadaan bersih dan tidak licin.

Selamat melatih si kecil berjalan ya Mama... :)



Sumber:  http://www.parentsindonesia.com, http://www.newbornbabyzone.com

 



Minggu, 14 Juli 2013

Tips Membentuk Anak Tangguh



Anak-anak zaman sekarang, boleh dibilang cenderung manja. Betul ga Bunda? Buktinya, pemenuhan kebutuhan sehari-hari mereka yang bersifat rutin sudah ada yang memikirkan, apakah orang tuanya ataukah pengasuh jika kedua orang tuanya bekerja. Sehingga anak-anak ini terbentuk menjadi anak-anak yang sibuk berpikir dan mencari apa yang bisa membuat dirinya tidak bosan, tetapi mereka sendiri kurang memahami kebutuhan dasar yang seharusnya mereka penuhi terlebih dahulu.

Contohnya aja banyak anak dan remaja terlalu asyik main game sehingga lupa mandi dan makan. Anak TK dan SD sibuk memikirkan mainan apa yang akan dibawa ke mobil agar tidak bosan di perjalanan menuju sekolah, tetapi isi tas mereka mengenai apa yang seharusnya mereka bawa ke sekolah, sudah ada yang mengatur dan menyusunkan. Jika ada yang tertinggal saat mereka di sekolah, adalah suatu pemandangan yang wajar tetapi sebenarnya menyedihkan karena anak-anak ini akan menyalahkan orang tua atau pengasuh yang salah dalam memasukkan barang kebutuhan mereka ke dalam tasnya. Anak-anak tinggal menelepon ke rumah, bahkan ada yang sambil memarahi atau merengek-rengek, dan meluncurlah bapak, ibu, pembantu atau sopir mengantarkan kebutuhan mereka ke sekolah. Jika ditanyakan kepada orang tua mengapa semudah itu anak mendapatkan bantuan, orang tua akan beralasan bahwa itu dilakukan agar anak-anak dapat lebih konsentrasi belajar karena jaman sekarang materi pelajaran di sekolah semakin berat dan pekerjaan rumah semakin banyak. Padahal yang terjadi adalah semakin banyak bantuan yang diberikan, kebutuhan seseorang untuk melakukan sendiri pun semakin menurun, ia akan lebih banyak mengandalkan orang lain. 

Anak-anak dan remaja dengan banyaknya bantuan dan permakluman seperti ini lebih banyak yang tumbuh sebagai seorang yang kurang percaya diri, mudah mengeluh, mudah mencari bantuan, motivasi berusaha kurang, tidak siap gagal dan pada akhirnya menjadi seorang yang egois karena ingin orang lain memaklumi kekurangan dirinya. 

Lantas apa yang harus dilakukan supaya anak-nak kita menjadi pribadi yang lebih tangguh dan mandiri?


1) Mulailah dari diri Anda !

2) Janganlah bersikap kasar

3) Tanamkanlah rasa percaya diri

4) Jangan jadikan dia pengekormu

5) Jagalah terus kemandiriannya

6) Jangan berlebihan melindunginya (over protective)

7) Tumbuhkanlah jati dirinya.

8) Ajarkanlah ia bahwa hidup hanyalah sementara.

9) Berusahalah terus mengembangkan kecakapan dirinya.

10) Berilah kesempatan padanya untuk membantu Anda.

11) Biarkan dia bermain.

12) Tegakkanlah aturan keluarga di rumah Anda.

13) Jadikan dirinya orang yang memiliki obsesi yang tinggi.

14) Bantulah anak dalam memilih teman.

15) Hindari cemoohan dan hujatan padanya.

16) Bangunlah sasaran dan tujuan hidupnya.

17) Jadikan dia pribadi yang cekatan.

18) Berikanlah limpahan tugas yang tidak mengekang.

19) Tegakkan tanggung jawab dalam dirinya.

20) Alihkan tanggung jawab padanya.

21) Terus meningkatkan prestasi untuk menjadi yang terbaik.

22) Pujian dan sanjungan yang tidak berlebihan.

23) Berikanlah kebebasan memilih.

24) Utuslah anak untuk menyelesaikan urusan Anda.

25) Ajaklah anak Anda dalam pertemuan orang dewasa.


Semangat membentuk anak tangguh ya Bunda, Ayah!... :)



Sumber: http://ramaniyaonline.com

Kamis, 11 Juli 2013

Membiasakan Kerapian Pada Anak



Hayo..! Mama lebih milih yang mana diantara dua gambar ini?..

Gambar yang paling atas bukan?...

Buat Mama yang punya banyak balita di rumah kira-kira bisa ga ya punya rumah serapi dan sebersih itu?.. :)

Jangan dipikirin ah Ma!.. Dilakuin aja yuuk...! Dan jangan lupa minta bantuan si kecil buat ngerapihin rumah supaya kerjaan kita terasa lebih ringan dan si kecil terbiasa untuk rapi. Yah..., minimal mereka bisa ngerapiin mainan sendiri sehabis bermain.

Ini penting lho Ma.. Kenapa? Karena, menurut penelitian di American Economic Review, anak-anak yang dibesarkan dalam lingkungan rumah yang rapi dan teratur akan lebih sukses di sekolah dan pekerjaan, dibandingkan anak  yang dibesarkan dalam lingkungan yang berantakan. “Rutinitas membereskan sesuatu akan meningkatkan kemampuan anak untuk mematuhi tugas atau rencana dengan baik dalam kehidupannya nanti,” tutur Dr. Jeanne Brooks-Gunnn, PhD, guru besar tumbuh kembang anak di Teachers College and the College of Physicians and Surgeons di Columbia University. yang memimpin wawancara.

“Apakah Anda membersihkan sebelum waktu tidur ataupun di siang hari tidaklah menjadi masalah,” ujarnya lagi. “Yang penting adalah perencanaan dan rutinitasnya bagi anak.” Sisi plusnya lagi adalah batita akan jadi bisa melakukannya tanpa harus merengek jika mereka tahu kapan waktunya untuk membereskan.

Selamat baberes ya Ma!... :)



Sumber:  http://parentsindonesia.com, http://family.fimela.com, http://blog74toni.blogspot.com

Rabu, 10 Juli 2013

Aktivitas Yang Bikin Cerdas Sang Buah Hati


Bayi mungilnya sudah mulai besar ya bunda?.. Sudah bisa bawakan minuman buat tamu bunda? heheeeh kayak di iklan susu aja ya..

Otak bayi mengalami perkembangan yang sangat pesat hingga usia dua tahun. Perkembangan selama 2 tahun pertama adalah perkembangan berbahasa serta motorik halus tercepat yang pernah ia alami. Namun, memasuki usia 3-5 tahun, perkembangan itu melambat dan cenderung stabil, tetapi otak bekerja dan membangun koneksi dengan bagian-bagian lainnya.

 Di usia prasekolah, otak anak sedang belajar membangun kemampuan memecahkan masalah dan menggunakan bahasa untuk bernegosiasi. Begitu pun, mereka sedang belajar mengkoordinasikan tubuhnya, seperti cara menendang bola sambil mengukur ketepatan arahnya.

Michele Macias, MD, jurubicara American Academy of Pediatrics (AAP) mengatakan, "Di usia ini, anak-anak seharusnya berada di luar dan mengeksplorasi banyak hal, serta bersiap untuk tugas terpenting mereka selanjutnya, yakni sekolah."

Menurut Macias, stimulan otak terbaik bagi anak adalah waktu pribadi dengan orangtuanya. Meski di usia ini adalah waktu anak untuk belajar mandiri, tetapi keterikatan anak-orangtua masih ada. Ditambahkan lagi, pertukaran bahasa dan ide adalah pendorong perkembangan otak yang paling penting bagi anak ketimbang menyuruh si anak beraktivitas yang lain.

Apa saja ya Bunda, aktivitas yang bisa menggenjot kecerdasan si kecil?

Membaca bersama
Membaca baik untuk memberi waktu berkualitas dengan anak, sekaligus menstimulasi otak anak. Menurut studi, membaca bersama anak bisa membantunya belajar "melek huruf" lebih cepat. Memperkaya kemampuan berbahasa dan diksi, serta memicu diskusi dengan orangtua yang mempercepat pemahaman. Pilihan buku bisa yang bersifat cerita, berhitung, ABC, mencocokkan, dan membagi.

Main pura-pura
Anak pra-sekolah memiliki imajinasi yang besar. Mereka akan sangat suka bermain seakan-akan mereka seorang puteri, pebalet, superhero, dan lainnya. Selain menyenangkan, bermain pura-pura juga bisa mengajak mereka bereksperimen dengan permainan peran. 

Permainan imajinatif juga membangun kemampuannya berbahasa, karena hal ini menyangkut berpikir mengenai kata-kata dan mengulangi apa yang mereka dengar. Jadi, ketika ia mengajak Anda bermain pura-pura, jangan langsung menolaknya.

Belajar berteman
Belajar aturan bermain dengan banyak bermain dengan teman akan mendorong kecerdasan sosialnya. Tambahan lagi, berteman juga membantunya melatih kendali diri, berbagi, dan bernegosiasi. Belajar bersosialisasi membuat anak membangun belajar tentang stereotip anak lain. Misal, kesukaan anak yang lebih tua atau anak yang lebih muda, serta perbedaan tingkah anak laki-laki dari anak perempuan. 

Anak yang tidak belajar bersosialisasi bisa jadi anak yang sangat pandai dan ber-IQ tinggi, tetapi akan sulit sukses dalam hal kesehatan, tugas sekolah, bahkan pekerjaan.

Games dan puzzle
Permainan tradisional zaman dulu, seperti Petak Umpet, Petak Jongkok, dan lainnya membantu anak belajar kemampuan sosial anak. Anak akan belajar mengambil giliran, serta belajar menerima frustasi karena tidak menang. Mengingat aturan juga melatih otot memori. Permaianan fisik membantu mengasah koordinasi motorik anak.

Sementara permainan semacam puzzle memberinya latihan mencari cara lewat permainan nonverbal dan kemampuan bervisual. Stimulasi ini akan melatih otaknya.

Belajar bahasa asing
Riset menunjukkan, anak usia ini bisa belajar berbahasa lebih cepat ketimbang saat mereka sudah mencapai usia dewasa. Belajar bahasa asing juga memberinya stimulasi pada area otak yang bertanggung jawab untuk menyimpan, memperkirakan, dan mengucapkan kata-kata.

Bahasa kedua juga membantu mengembangkan kemampuan verbal dan spasial, serta diksi dan kemampuan membaca. Ditambah lagi, ia akan belajar mengenai perbedaan kultural.

Kelas khusus usianya
Kelas olahraga untuk anak seusianya bisa membantu membentuk struktur, menciptakan setting sosial, dan membangun kemampuan motorik serta keseimbangan. Serupa dengan itu, musik dan kursus kesenian bisa mendorong kecerdasan artistik atau musikal. Namun, tak ada bukti yang mengatakan bahwa kelas-kelas semacam ini bisa menciptakan anak jenius. 

Ikut bermain
Ingatlah akan nilai keuntungan dari bermain bebas. Terlibatlah dalam waktu bermain mereka, tetapi jangan memaksakan kendali Anda, karena justru bisa menghilangkan keuntungannya, khususnya dalam membangun kreativitas, kepemimpinan, dan berkelompok.

Macias juga mengingatkan pentingnya untuk tidak memaksakan si kecil belajar terlalu banyak atau ikut dalam aktivitas atau kelas terlalu banyak, karena bisa membuatnya kelelahan atau frustasi. Apa pun kelas yang Anda pilih, pastikan si kecil menyukainya dan tidak merasa tertekan. Biarkan si kecil menikmati masa kecilnya.



Sumber:  http://female.kompas.com
              

Selasa, 09 Juli 2013

Ciri Preschool Berkualitas



Si kecil sudah berusia 2 tahun Bunda? Sudah mulai memikirkan sekolah yang bagus buat dia dong ya? Kira-kira prasekolah atau PAUD yang bagus untuknya yang seperti apa ya?...

Menurut the National Association for the Education of Young Children (NAEYC) prasekolah yang bagus itu:

1. Tempat untuk anak-anak menghabiskan sebagian besar waktunya untuk bermain, mengerjakan material pembelajaran dan bersosialisasi dengan anak lainnya.

2. Anak melakukan berbagai macam aktivitas setiap harinya.

3. Guru mengajar anak secara individu, dalam kelompok kecil dan seluruh grup dalam waktu yang berbeda pada hari yang sama.

4. Kelas anak penuh dekorasi hasil karya anak.

5. Anak-anak belajar konsep angka dan alfabet dalam konteks pengalaman sehari-hari.

6. Anak mengerjakan proyek untuk bermain dan melakukan eksplorasi (dalam waktu minimal satu jam) dengan lembar kerja seminimal mungkin.

7. Anak-anak berkesempatan bermain di luar ruangan setiap hari.

8. Guru membacakan buku untuk anak, baik secara individual maupun dalam kelompok kecil.

9. Guru memahami bahwa setiap anak itu berbeda dan tidak bisa mempelajari hal yang sama pada waktu yang sama dan dengan cara yang sama.

10. Jika ketika trial anak merasa aman dan nyaman, tidak pernah mengeluh, menangis di sekolah tersebut, berarti sekolah tersebut ok buat dia.



Sumber: http://www.parenting.co.id
               http://educationarticle.net/