Minggu, 07 Juli 2013

Menjadi Asertif, Kenapa Nggak?


Mama, Ummi, dan Bunda, pastinya sering merasa ga enakan bukan jika harus mengatakan tidak pada sesuatu. Nah, sebenarnya gimana sih cara yang mantap untuk mengatasi hal ini?..

Kemampuan mengungkapkan pendapat berkaitan dengan sikap asertif. Sikap ini dikatakan Rena Latifa, M.Psi, Dosen Fakultas Psikologi Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah, Jakarta, sebagai kemampuan mengutarakan pikiran dan pendapat, baik positif maupun negatif, tanpa merugikan orang lain dan diri sendiri.

Sikap asertif, kata Rena, ada di antara sikap pasif dan agresif. Sikap pasif itu serba enggak enakan dan cari aman. Sementara sikap agresif dideskripsikan sebagai keberanian mengungkapkan pendapat, tapi tanpa memikirkan kepentingan orang lain, yang penting dirinya puas.

Ketidakmampuan seseorang dalam mengutarakan pendapatnya berpotensi menjadi bom waktu yang bisa “meledak” karena lama memendam sakit hati dan selalu berada dalam tekanan. “Bila seseorang merasa terintimidasi, terancam, tersakiti, tidak aman, dan tidak puas hidupnya karena orang lain, secara psikologis mentalnya menjadi tidak sehat. Selain itu, mental tidak sehat juga bisa mengarah ke penyakit fisik, seperti vertigo, jantung berdebar dan lainnya,” papar Rena yang menyelesaikan Magister Profesi Psikologi Klinis Dewasa di Universitas Indonesia ini.

Walau asertif adalah sikap positif dan ideal dalam menjalani hidup, tak setiap orang bisa melakukannya. Ibu satu anak ini mengungkapkan bahwa semua bisa berawal dari pola asuh dalam keluarga. “Apabila sejak kecil seseorang mendapatkan pola asuh dari orangtua yang dominan, otoriter, gemar memotong dan mematahkan kalimat anak, maka ia berpotensi tumbuh menjadi seseorang yang penakut,” bebernya. Kecenderungan ini semakin kuat manakala ia berada dalam lingkungan atau budaya yang membuatnya tidak bisa mengekspresikan pendapat.

Mengasah sikap asertif

Kenali terlebih dahulu apakah seseorang nyaman dengan kondisi tidak asertif.  Ada sebagian orang yang nyaman dengan kepasifannya, sebab ia merasa butuh figur yang lebih dominan untuk mengarahkan hidupnya. Namun bila seseorang merasa tersiksa dengan kepasifannya, artinya ia mesti menemukan solusi untuk mengomunikasikan pikirannya.

Sebelum bisa berkomunikasi dengan baik, emosi perlu dikelola agar stabil. Dalam berbagai situasi, jangan terburu-buru fokus pada emosi negatif. Saat orang lain  mengutarakan pendapat yang menyinggung perasaan, jangan langsung merasa terhina atau marah, pastikan dulu maksudnya sebenarnya apa. Setelah emosi stabil, barulah kita bisa fokus pada isi pesan yang bisa dipahami orang.

Figur dominan, seperti suami, kadang membuat seseorang takut mengutarakan pendapat. Cobalah dulu berlatih komunikasi dengan figur setara, seperti sahabat, baru kemudian beranikan bicara pada figur dominan. “Patuh dengan pasif itu berbeda. Seorang perempuan bisa tetap mematuhi suaminya tanpa mesti menjadi pasif,” kata Rena.

Bergaul dengan orang yang memiliki banyak kesamaan dengan kita memang membuat nyaman, namun sikap asertif tak akan berkembang. Karena itu, berinteraksilah dengan banyak orang dengan berbagai karakter agar sikap asertif lebih terasah.

Siap untuk bahagia dan nyaman kan bunda? Selamat bergaul ya.. :)



Sumber:  http://www.ummi-online.com
                http://running2heal.wordpress.com

Sabtu, 06 Juli 2013

Pekerjaan Ok, Anak Bahagia



Ibu bekerja, diluar pekerjaan domestik tentu saja, merupakan hal lumrah saat ini. Entah karena tuntutan ekonomi, atau sekedar tuntutan eksistensi diri. Ada yang bekerja diluar rumah, ada juga yang menjadi pelaku usaha di rumah.

Lalu bagaimana dengan anak-anak jika Ibu bekerja?

 Modal dasar bagi orangtua dalam mengasuh anak-anaknya adalah kemampuan memahami karakter dan temperamen mereka. Ada anak yang tenang, ada yang suka tantangan, dan sebagainya. “Ketika ibu sudah memiliki ‘modal’ tadi, lalu ibu tetap memerhatikan dan memenuhi kebutuhan kasih sayang sayang anak hingga anak percaya ibunya tetap sayang kepadanya, keputusan untuk ibu bekerja tidak akan bermasalah,” ujar Fajriati M. Badrudin, psikolog pada Bunga Matahari Islamic Pre-School, yang berlokasi di Doha, Qatar.

Namun begitu, tetap saja anak-anak harus diberi pemahaman tentang ketiadaan ibu di rumah untuk pergi bekerja. Apalagi ketika mereka melihat ibu dari teman-temannya selalu ada di rumah menemani dan melayani mereka. Fajriati memaparkan bahwa untuk anak-anak balita, orangtua belum bisa memberikan pemahaman secara abstrak karena tahapan pemikiran mereka masih dalam tataran konkret. Seiring pertambahan usia, barulah abstraksi mereka semakin bagus dan bisa diajak berdiskusi.

 Pada tahap awal perkembangan anak, kata Fajriati, interaksi terbaik adalah dengan sentuhan langsung. “Misalnya ketika ibu sedang ada di rumah, segala keperluan anak sebaiknya ditangani ibu, jangan diserahkan kepada asisten rumah tangga lagi,” kata lulusan Fakultas Psikologi Universitas Indonesia ini.

 Sepulang bekerja, ibu sebaiknya langsung memberi waktu untuk anak. Jangan menundanya karena anak sedang dalam kondisi terbaik setelah menunggu ibu pulang bekerja. Paling tidak berikan waktu 15 menit untuk melayani kebutuhan anak, apakah mereka ingin bermain bersama atau sekadar ingin berbagi cerita tentang aktivitasnya. Selelah apa pun ibu, jangan menolak anak di saat-saat seperti ini. Barulah ketika anak sudah merasa didengarkan dan diperhatikan, ibu bisa minta waktu pada anak untuk mandi dan beristirahat sebentar untuk kemudian menemani mereka lagi.

 Mengenalkan anak pada pekerjaan ibu juga bisa dilakukan untuk memberi mereka pemahaman. Sesekali mereka bisa diajak ke tempat kerja, tentu dengan seizin atasan. Atau ajak mereka ke tempat kerja saat cuti untuk mengenalkan situasi kantor. Kalau pekerjaan dilakukan dirumah, tentu lebih gampang lagi menjelaskannya.“Dengan demikian mereka akan paham bahwa ibunya keluar rumah untuk bekerja, bukan untuk main-main. Sambil jelaskan kepada mereka bahwa kita mencari uang untuk memenuhi kebutuhan hidup, seperti membeli makanan, membayar sekolah dan sebagainya,” terang Kepala Sekolah Daar al-Arqam Indonesian Stream al-Khor, Qatar ini.

Dukungan dan kontribusi suami juga mutlak diperlukan. Penerapan pola asuh anak pun haruslah hasil kesepakatan suami dan istri karena pendidikan anak adalah tanggung jawab bersama. Ketika istri bekerja—yang sudah pasti melalui restu suami—suami pun harus berperan. Misalnya, bila tak ada pengasuh, suami sebaiknya turun tangan membantu istri, entah menjaga anak, ikut membantu pekerjaan rumah tangga, atau yang lainnya. Ketika anak-anak melihat kerja sama antara ayah dan ibunya, sesungguhnya ini merupakan pelajaran  berharga untuk masa depan mereka juga.




Sumber: http://www.ummi-online.com
              http://www.womenscircle.com



Kamis, 04 Juli 2013

Merespon Tangisan Bayi


Cara bayi berusia 3-4 bulan berkomunikasi adalah melalui tangisan. Apapun kebutuhan atau keluhanya, si bayi hanya bisa menangis guna menarik perhatian sekaligus mengomunikasikan kebutuhannya tersebut. Dari tangisan inilah orangtua atau orang lain di sekitar si bayi akan mengetahui apa yang diinginkan bayi. Umumnya makin keras suara tangisan, makin kuat atau mendesak pula kebutuhannya. Pada semua kondisi yang membutuhkan bantuan orang di sekitarnya, si bayi akan menangis, dari kondisi sakit sampai kekenyangan.

Bagaimana cara merespon tangisan bayi dengan tepat?
Vera Itabiliana K. Hadiwidjojo, psikolog anak dan remaja di Lembaga Psikologi Terapan Universitas Indonesia,  mengungkapkan satu metode yang dikenal sebagai metode SLOW (Slow, Listen, Observe, Whats up). Langkah-langkahnya adalah sebagai berikut;

 Slow. Saat bayi menangis, jangan langsung menggendongnya atau langsung memberikan ASI, karena bisa jadi bukan itu yang diperlukannya. Jadi perhatikan dulu apa yang sesungguhnya dibutuhkan bayi. Perlahan dan tenang saja. Selain memerhatikan, ibu juga bisa mengajak bayi bicara dan menanyakan apa yang diinginkannya. “Meski belum bisa bicara, bayi bisa mendengar perkataan kita ,” imbuh ibu satu putra ini.
 
Listen. Lalu dengarkan tangisan seperti apa yang disuarakan si bayi, apakah tangis karena haus dan lapar, karena lelah, kedinginan dan sebagainya.

Observe. Teliti lagi apa yang menyebabkannya menangis. “Tak ada bayi yang menangis tanpa sebab. Pasti ada sebabnya,” kata Vera. Kita bisa tahu penyebabnya dari tangisannya atau dengan memeriksa keadaan si bayi, dari kondisi tubuh dan keadaan sekelilingnya.

Whats up. Setelah tahu penyebabnya, barulah ibu dapat melakukan sesuatu untuk memenuhi kebutuhan si bayi. 

Biasanya pada tiga bulan pertama, bayi menangis semata karena kebutuhan fisik saja. Sementara kebutuhan psikologi―misalnya kebutuhan ingin lebih diperhatikan―baru bisa diungkapkan si bayi setelah berusia 3 bulan ke atas. Baik kebutuhan fisik maupun psikologi tentu saja harus bisa dipenuhi orangtua atau orang-orang di sekeliling bayi dengan sebaik-baiknya.

Ada mitos yang berkembang di masyarakat, kalau bayi menangis sebaiknya dibiarkan saja supaya tidak manja dan agar fisiknya kuat. Itu tidak benar. Menurut Vera, jangan membiarkan bayi menangis terlalu lama tanpa usaha orangtua untuk mengetahui penyebabnya. Tentu saja jangan langsung menggendong setiap kali bayi menangis. Namun berikanlah respons positif untuk setiap tangisannya, misalnya dengan menyentuh atau mengajaknya bicara. “Di sinilah akan terbentuk trust (kepercayaan – red) bayi pada orang-orang di sekitarnya yang menjadi dasar perkembangan selanjutnya. Dengan diberi respons bayi akan merasa nyaman, dimengerti, disayang dan diinginkan kehadirannya di dunia ini.”

Bila bayi menangis dibiarkan terus tanpa direspons positif, bisa jadi kelak anak akan tumbuh menjadi anak yang rendah diri karena ia merasa kurang diperhatikan. Lagipula, bayi hanya menangis bila benar-benar membutuhkan sesuatu, baik kebutuhan fisik maupun psikologis. Sebab, sebagai makhluk paling murni bayi tak mungkin berpura-pura dan memanipulasi tangisannya.



Sumber:  http://www.ummi-online.com

Mengapa Anak Jadi Pemarah?

Merupakan hal yang wajar jika anak-anak pada usia tertentu, biasanya 2-5 tahun, sering marah-marah. Ekspresi kemarahan mereka bermacam-macam. Ada yang berguling-guling di lantai, berteriak-teriak, bahkan melempar benda-benda yang ada di sekitarnya.


Apakah yang menyebabkan si kecil kita sering marah- marah?

Menurut psikolog Devi Ayuttya Wardhani,  M.Psi, dari Optima Psychology, anak-anak usia 2-5 tahun perkembangan bahasanya masih terbatas, sehingga ketika ia merasa tidak nyaman ketika mainannya direbut kakaknya misalnya, maka ia akan mengekspresikan emosinya dengan membentak, berguling-guling atau menangis supaya orang disekitarnya tahu kalau ia sedang marah.

Jika si kecil menarik diri atau diam saja ketika dia diganggu, tak bisa menunjukkan kemarahannya, maka ini harus dicari penyebabnya. Mengeluarkan rasa marah menunjukkan bahwa si kecil sehat emosinya. Karena normalnya, anak kecil adalah makhluk yang paling jujur dan spontan.

Faktor orangtua dapat menentukan sang anak pemarah atau bukan. Karena anak dapat mewarisi sifat temperamental, gampang tersinggung,dan gampang marah kedua orangtuanya. Apakah itu ayah atau ibunya.
 
Faktor lingkungan juga tak kalah besarnya mempengaruhi anak. Sering melihat ayah dan ibunya dengan emosi yang meledak-ledak ditambah pengasuh lain yang marah-marah dengan mengeluarkan kata-kata kasar atau tontonan televisi beradegan kekerasan, membuat mereka bisa saja marah sambil melempar barang, menendang, memukul dan sebagainya.

Pola asuh yang salah seperti mengikuti apa saja keinginan anak ketika dia marah-marah atau menangis. Sehingga dia merasa selalu mendapatkan keinginannya jika sudah marah-marah atau menangis. Biasanya hal ini terjadi di tempat umum seperti pusat perbelanjaan. Ayah atau Bunda tak kuasa menolak permintaan anak untuk dibelikan sesuatu jika anak sampai berguling-guling di lantai.

Ada juga anak yang biasanya penurut menjadi sering marah-marah saat punya adik baru. Hal ini bisa saja terjadi karena sebenarnya ia sedang cemburu pada adik baru. Untuk ini Mama dan Papa harus bisa menunjukkan perhatian yang sama terhadap semua anak-anaknya.

Lalu bagaimanakah menangani anak yang pemarah?

Mama dan Papa harus memberikan contoh bagaimana menyalurkan rasa marah dengan positif. Kalau mau anak berubah, tak pemarah lagi, harus diberikan lingkungan yang positif sehingga menjadi model prilaku yan bagus buat mereka.

Menahan diri untuk tak ikut-ikutan marah saat si kecil marah. Tenangkan diri dulu sebelum bicara dengan anak yang sedang marah. Ayah dan Bunda bisa berwudhu dulu sementara sang buah hati mengeluarkan amarahnya.

Bukan perkara gampang menghadapi anak yang gampang dan sering marah. Butuh kesabaran dan konsistensi. Semangat ya Bunda!!... :)




Sumber: http://ummi-online.com
             http://mychildguide.com












 

Selasa, 02 Juli 2013

Matahari Si Kaya Manfaat



Tak ada yang meragukan manfaat sinar matahari, bagi bayi khususnya. Asalkan tidak berlebihan tentu saja.

Sinar matahari yang kita peroleh secara gratis ini dari Allah, menjaga kesehatan bayi kita. Segala sesuatu penunjang hidupnya kita dapatkan dari sang surya. Kita lanjutkan yuuk..

Bayi yang baru lahir cukup rentan terhadap berbagai penyakit, seperti flu, masuk angin, batuk. Karena bayi dalam tahap adaptasi dengan lingkungan baru, setelah keluar dari rahim ibu. Salah satu cara sederhana dan mudah untuk menjaga kesehatan bayi baru lahir adalah dengan rajin menjemur bayi di bawah sinar matahari. Bahkan, untuk bayi yang mengalami batuk berdahak, untuk mengeluarkan dahak, ibu bisa memanfaatkan sinar matahari. Dengan menjemur bayi selama 15-30 menit, maka dahak bayi akan mencair. Sinar matahari bisa membantu agar suhu tubuh bayi tetap hangat.

Pembentukan tulang yang kuat ternyata tidak hanya didukung oleh asupan kalsium. Sebab, kalsium yang tidak bisa diserap tubuh dengan baik tidak bisa membentuk tulang yang sehat dan kuat. Karena itu, dibutuhkan sinar matahari yang bisa membantu penyerapan kalsium ke dalam tubuh.
Sinar matahari mengandung vitamin D yang bagus untuk pertumbuhan tulang yang dibutuhkan oleh bayi. Vitamin D juga baik untuk menjaga kesehatan kulit. Nah, Bu, mulailah untuk rutin menjemur bayi di bawah sinar matahari, setiap hari. Tapi ingat, sinar matahari yang baik adalah sinar matahari pada pukul 7-9 pagi ya.

Para ibu baru seringkali mengeluhkan kondisi bayinya yang baru lahir mengalami kuning pada bayi. Gangguan kuning pada bayi sebenarnya terjadi karena tingginya kadar bilirubin di dalam tubuh bayi. Bilirubin adalah pigmen kuning hasil pemecahan hemoglobin (Hb) yang ada di dalam hati. Nah, salah satu cara untuk mengatasi kuning pada bayi setelah lahir adalah dengan menjemur bayi di bawah sinar matahari. Mengapa? Karena sinar matahari yang hangat bisa membantu menormalkan tingkat bilirubin di dalam tubuh bayi. Jangan lupa untuk tetap memberikan asupan ASI ekslusif ya Bu, karena ASI terbukti bisa mengatasi bayi kuning setelah lahir.  Tetapi untuk bayi prematur, mengatasi bayi kuning dengan cara menjemur bayi di bawah sinar matahari tidak direkomendasikan. Karena bayi prematur membutuhkan penanganan yang lebih intensif.

Begitu bermanfaatnya ya bun, ga kebayang kalo ga ada sinar matahari di bumi ini...



Sumber:  http://family.fimela.com
               http://themumukshusoul.wordpress.com

Good Bye Bau Pesing!


Mama yang punya balita, pastinya pernah mengalami lah ya, rumah wangi, aroma terapi alami dari sang buah hati.. :) Ada yang mengatasinya atau mencegahnya dengan memberi anak popok sekali pakai maupun yang bisa dicuci. Namun seiring bertambahnya usia buah hati, ga mungkin dong mereka terus-terusan memakai popok?..

Saatnya untuk mengajari mereka pipis dan pup di kamar mandi atau toilet.  Sebaiknya kapan sih waktu yang tepat buat melatih mereka untuk urusan yang satu ini?...

Menurut psikolog Ivonne Edr SPsi, kepala divisi TPA Ubaya, saat yang tepat untuk memulai toilet training adalah ketika anak dan orang tua sama-sama siap. ”Anak mulai bisa mengenali bahwa popok atau celananya basah atau kotor serta bisa mengeluarkan kata-kata sederhana seperti ’Ma, pipis’ . Sementara itu, bunda juga sedang tidak terikat dengan komitmen lain sehingga bisa fokus,” paparnya.
Ketika sedang stres dengan pekerjaan, pindahan rumah, atau masih harus membagi perhatian dengan hal-hal lainnya, punya bayi baru misalnya, orang tua dikhawatirkan tidak bisa fokus melatih si kecil belajar tentang kebersihan diri.

Memasuki usia 18 bulan, pada umumnya si kecil sudah mampu berjalan untuk menuju ke toilet, tentunya dengan pengawasan orang tua. Pada usia tersebut, dia juga mulai bisa mengenali ada rasa basah yang tidak nyaman di tubuhnya. Selain melihat kesiapan fisiknya, perhatikan juga kesiapan mental si anak. Sebab, seorang anak yang sudah siap secara fisik belum tentu siap meninggalkan kenyamanan popoknya.

Tahap awal, biasanya anak menunjukkan reaksi fisik atau tanda-tanda saat ada tekanan dari dalam tubuhnya. ”Tanda-tanda yang diperlihatkan setiap anak bisa jadi berbeda. Ortu harus peka mengenali ketika anak mengejan, meremas celananya, menyilangkan kaki, mundur ke pojok, atau bersembunyi. Tandanya dia akan BAK atau BAB,” urai Ivonne.

Isyarat tersebut merupakan salah satu tanda bahwa si anak siap melakukan toilet training. Tanda-tanda lainnya, antara lain, anak memiliki waktu yang teratur untuk BAK atau BAB. Anak mulai resah dan bereaksi keras ketika popoknya basah atau kotor.

Selain itu, anak cukup cekatan menaik-turunkan celananya sendiri. Anak dapat membedakan apa itu BAK dan BAB serta mampu mengatakan keinginannya untuk berganti popok. ”Awalnya mungkin hanya merengek. Lama-lama, dia bisa membedakan dan mengatakan kepada orang tuanya, ’Ma, mau pipis’ atau ’Ma, mau pup’” lanjutnya.

Ketika anak sudah bisa mengungkapkan, saatnya dia dilatih ke toilet. Dampingi anak, ajarkan untuk melepas celana, kemudian dudukkan di kloset dengan pengawasan. Setelah anak selesai BAK atau BAB, siramkan atau semprotkan air serta bersihkan bagian tubuhnya. Bila perlu, gunakan alat bantu seperti potty seat yang lebih nyaman dan sesuai ukuran si kecil.

Orang tua perlu fokus dan memiliki banyak waktu untuk melakukan toilet training kepada si kecil. Sebab, latihan itu tidak bisa dilakukan sekali-dua kali. Anak bisa saja menolak, cemberut, bahkan menangis karena tidak mau dilatih ke toilet.

”Orang tua harus sabar dan telaten. Kalau hari ini belum berhasil, coba besok, besoknya lagi. Jangan sampai memarahi atau membentak. Sebab, itu bisa menimbulkan trauma kepada anak. Nanti justru semakin sulit mengajarkan toilet training,” ujar psikolog pendidikan anak tersebut.

Buatlah suasana ke toilet seperti bermain. Misalnya, lengkapi toilet dengan benda-benda favorit si kecil berupa mainan atau buku cerita kesukaannya. ”Suasana yang menyenangkan buat si kecil mempermudah dia dalam menyukai latihan toilet yang diajarkan orang tua,” ucapnya.


Sumber:  http://www.ubaya.ac.id
               http://www.learningexpress.com

Senin, 01 Juli 2013

Homeschooling

Mama, Ummi, Bunda, Mami, dan Ibu, pasti sudah sering mendengar istilah homeschooling bukan?
Betul.., homeschool, atau sekolah rumah, adalah sebuah aktivitas untuk menyekolahkan anak di rumah secara penuh. Paham ini mungkin terlihat sedikit nyeleneh karena sementara semua orang menyekolahkan anaknya di sekolah umum, kok ada ya orang yang menyekolahkan anaknya di rumah. Bukankah itu sama saja dengan tidak sekolah. Pemikirin seperti ini terjadi karena ada sebuah proses ahistoris (terpotong dari sejarah) yang melupakan bahwa dulu sekolah memang di mulai dari rumah. Baru kemudian setelah guru menjadi sebuah profesi tertentu sekolah mulai berpindah ke sebuah gedung yang dinamai sekolah.



Sekarang, homeschooling mengalami comeback terutama di Amerika Serikat. Perubahan ini terjadi karena dunia pendidikan juga mengalami perubahan dalam abad terakhir ini, yaitu semakin sentralnya lembaga pendidikan di tangan negara. Homeschool adalah sebuah reaksi atas perubahan itu.

Ada beberapa alasan orangtua menghomeschoolingkan anaknya, antara lain:
  1. Sekolah tidak mengajarkan iman yang benar kepada anak saya. Terus terang ini sering menjadi alasan utama orang tua untuk men-sekolahrumah-kan anaknya. Paling tidak 80% penggiat homeschool di Amerika adalah golongan ini. Mereka ada penganut Kristen Evangelis dan Fundamentalis yang tidak ingin anaknya diajarkan sains yang bertentangan dengan kitab suci.
  2. Sekolah sebagai lembaga pendidikan sudah bobrok. Banyak bullying di sekolah. Guru-guru juga tidak bisa mendidik dengan baik, malah membuat anak stress. Belum lagi kalau sekolahnya suka tawuran dan rawan kriminalitas. Untuk kasus Indonesia, kemungkinan besar mereka menyekolahkan anaknya karena alasan ini, karena kecewa dengan lembaga pendidikan di sini.
  3. Tidak setuju dengan filosofi pendidikan yang diterapkan di sekolah. Sekitar 10% penggiat homeschooling di Amerika memiliki pandangan ini. Mereka memilih untuk menyekolahkan anaknya di rumah saja, dengan pendekatan pendidikan yang mereka sukai.
  4. Orang tua ingin mengambil tanggung jawab penuh atas pendidikan anaknya. Alasan ini sebenarnya bisa saja merupakan penjelasan lain dari ketiga alasan di atas.
Sedangkan beberapa penolakan atas homeschooling karena:
  1. Orang tua bukan guru profesional, bagaimana bisa mereka mendidik anaknya.
  2. Anak-anak nantinya tidak bisa bersosialisasi karena tidak bergaul dengan anak-anak sebayanya di sekolah.
  3. Tidak tahu harus memakai kurikulum apa.
  4. Biaya untuk membeli buku menjadi lebih besar karena tidak bisa meminjam buku dari sekolah.
Namun penolakan diatas sebenarnya ga perlu, karena:

Pertama, semua orang yang lebih tua sebenarnya adalah guru bagi yang lebih muda. Tidak ada orang yang tidak bisa mengajar. Semua orang yang bisa membaca bisa mengajar orang lain membaca. Begitu pula dengan berhitung dan lain-lain. Tetapi bagaimana dengan ilmu-ilmu yang sulit seperti fisika dan kimia? Di sinilah terletak kesalahpahamannya. Homeschooling bukan berarti orang tua mengajar anak, melainkan orang tua belajar bersama anak. Jadi tidak ada keharusan bahwa orang tua harus menguasai materi pelajaran. Kalau ada kesulitan dalam menguasai materi, bantuan bisa dicari kemudian.

Kedua, sekolah di rumah tidak berarti sang anak harus dikurung di rumah. Anak tetap bisa bebas bermain dengan tetangga, atau malah disekolahkan di sekolah non-formal yang lain seperti sekolah musik atau sekolah olahraga.

Ketiga, sekarang, dengan kemudahan teknologi informasi, akses akan kurikulum dapat diperoleh dengan mudah. Kelompok-kelompok orang tua yang menjalankan homeschooling juga sudah mulai bermunculan.

Keempat, biaya untuk homeschooling malah bisa lebih rendah, karena tidak harus keluar biaya gedung, seragam, uang transpor dan jajan. Memang belanja buku di awal akan terlihat besar, namun bila dibagi pertahun akan jauh lebih murah dari biaya sekolah total.

Homeschooling menuntut tanggung jawab yang besar dari orang tua akan perkembangan anaknya. Ini adalah komitmen yang tidak mudah, apalagi untuk orang kota. Jadi yang harus Mama lakukan jika ingin menerapkan homeschool buat anak adalah:
  1. Yakinkan diri Anda, bahwa Anda akan memprioritaskan waktu dan tenaga Anda untuk pendidikan anak Anda.
  2. Carilah informasi sebanyak-banyaknya sebelum memutuskan. Kalau bisa malah ngobrol dengan orang yang sudah menjalankannya.
  3. Cek di Dinas Pendidikan daerah Anda apakah anak Anda bisa mendapatkan ijasah formal atau persamaan dan bagaimana caranya, sebab ini berkaitan dengan kelanjutan studi anak Anda di jenjang yang lebih tinggi.
  4. Jangan memaksa anak untuk homeschool, berikan pengertian kepada dia. Jika ia lebih suka sekolah formal, biarkan saja. Kecuali bila anak sudah lebih besar, Anda bisa lebih memberikan pertimbangan lebih banyak kepada anak Anda, karena ia sudah bisa diajak berdialog dan berdebat bila perlu.

Sumber:  http://pendidikanklasik.wordpress.com