Kamis, 04 Juli 2013

Mengapa Anak Jadi Pemarah?

Merupakan hal yang wajar jika anak-anak pada usia tertentu, biasanya 2-5 tahun, sering marah-marah. Ekspresi kemarahan mereka bermacam-macam. Ada yang berguling-guling di lantai, berteriak-teriak, bahkan melempar benda-benda yang ada di sekitarnya.


Apakah yang menyebabkan si kecil kita sering marah- marah?

Menurut psikolog Devi Ayuttya Wardhani,  M.Psi, dari Optima Psychology, anak-anak usia 2-5 tahun perkembangan bahasanya masih terbatas, sehingga ketika ia merasa tidak nyaman ketika mainannya direbut kakaknya misalnya, maka ia akan mengekspresikan emosinya dengan membentak, berguling-guling atau menangis supaya orang disekitarnya tahu kalau ia sedang marah.

Jika si kecil menarik diri atau diam saja ketika dia diganggu, tak bisa menunjukkan kemarahannya, maka ini harus dicari penyebabnya. Mengeluarkan rasa marah menunjukkan bahwa si kecil sehat emosinya. Karena normalnya, anak kecil adalah makhluk yang paling jujur dan spontan.

Faktor orangtua dapat menentukan sang anak pemarah atau bukan. Karena anak dapat mewarisi sifat temperamental, gampang tersinggung,dan gampang marah kedua orangtuanya. Apakah itu ayah atau ibunya.
 
Faktor lingkungan juga tak kalah besarnya mempengaruhi anak. Sering melihat ayah dan ibunya dengan emosi yang meledak-ledak ditambah pengasuh lain yang marah-marah dengan mengeluarkan kata-kata kasar atau tontonan televisi beradegan kekerasan, membuat mereka bisa saja marah sambil melempar barang, menendang, memukul dan sebagainya.

Pola asuh yang salah seperti mengikuti apa saja keinginan anak ketika dia marah-marah atau menangis. Sehingga dia merasa selalu mendapatkan keinginannya jika sudah marah-marah atau menangis. Biasanya hal ini terjadi di tempat umum seperti pusat perbelanjaan. Ayah atau Bunda tak kuasa menolak permintaan anak untuk dibelikan sesuatu jika anak sampai berguling-guling di lantai.

Ada juga anak yang biasanya penurut menjadi sering marah-marah saat punya adik baru. Hal ini bisa saja terjadi karena sebenarnya ia sedang cemburu pada adik baru. Untuk ini Mama dan Papa harus bisa menunjukkan perhatian yang sama terhadap semua anak-anaknya.

Lalu bagaimanakah menangani anak yang pemarah?

Mama dan Papa harus memberikan contoh bagaimana menyalurkan rasa marah dengan positif. Kalau mau anak berubah, tak pemarah lagi, harus diberikan lingkungan yang positif sehingga menjadi model prilaku yan bagus buat mereka.

Menahan diri untuk tak ikut-ikutan marah saat si kecil marah. Tenangkan diri dulu sebelum bicara dengan anak yang sedang marah. Ayah dan Bunda bisa berwudhu dulu sementara sang buah hati mengeluarkan amarahnya.

Bukan perkara gampang menghadapi anak yang gampang dan sering marah. Butuh kesabaran dan konsistensi. Semangat ya Bunda!!... :)




Sumber: http://ummi-online.com
             http://mychildguide.com












 

Selasa, 02 Juli 2013

Matahari Si Kaya Manfaat



Tak ada yang meragukan manfaat sinar matahari, bagi bayi khususnya. Asalkan tidak berlebihan tentu saja.

Sinar matahari yang kita peroleh secara gratis ini dari Allah, menjaga kesehatan bayi kita. Segala sesuatu penunjang hidupnya kita dapatkan dari sang surya. Kita lanjutkan yuuk..

Bayi yang baru lahir cukup rentan terhadap berbagai penyakit, seperti flu, masuk angin, batuk. Karena bayi dalam tahap adaptasi dengan lingkungan baru, setelah keluar dari rahim ibu. Salah satu cara sederhana dan mudah untuk menjaga kesehatan bayi baru lahir adalah dengan rajin menjemur bayi di bawah sinar matahari. Bahkan, untuk bayi yang mengalami batuk berdahak, untuk mengeluarkan dahak, ibu bisa memanfaatkan sinar matahari. Dengan menjemur bayi selama 15-30 menit, maka dahak bayi akan mencair. Sinar matahari bisa membantu agar suhu tubuh bayi tetap hangat.

Pembentukan tulang yang kuat ternyata tidak hanya didukung oleh asupan kalsium. Sebab, kalsium yang tidak bisa diserap tubuh dengan baik tidak bisa membentuk tulang yang sehat dan kuat. Karena itu, dibutuhkan sinar matahari yang bisa membantu penyerapan kalsium ke dalam tubuh.
Sinar matahari mengandung vitamin D yang bagus untuk pertumbuhan tulang yang dibutuhkan oleh bayi. Vitamin D juga baik untuk menjaga kesehatan kulit. Nah, Bu, mulailah untuk rutin menjemur bayi di bawah sinar matahari, setiap hari. Tapi ingat, sinar matahari yang baik adalah sinar matahari pada pukul 7-9 pagi ya.

Para ibu baru seringkali mengeluhkan kondisi bayinya yang baru lahir mengalami kuning pada bayi. Gangguan kuning pada bayi sebenarnya terjadi karena tingginya kadar bilirubin di dalam tubuh bayi. Bilirubin adalah pigmen kuning hasil pemecahan hemoglobin (Hb) yang ada di dalam hati. Nah, salah satu cara untuk mengatasi kuning pada bayi setelah lahir adalah dengan menjemur bayi di bawah sinar matahari. Mengapa? Karena sinar matahari yang hangat bisa membantu menormalkan tingkat bilirubin di dalam tubuh bayi. Jangan lupa untuk tetap memberikan asupan ASI ekslusif ya Bu, karena ASI terbukti bisa mengatasi bayi kuning setelah lahir.  Tetapi untuk bayi prematur, mengatasi bayi kuning dengan cara menjemur bayi di bawah sinar matahari tidak direkomendasikan. Karena bayi prematur membutuhkan penanganan yang lebih intensif.

Begitu bermanfaatnya ya bun, ga kebayang kalo ga ada sinar matahari di bumi ini...



Sumber:  http://family.fimela.com
               http://themumukshusoul.wordpress.com

Good Bye Bau Pesing!


Mama yang punya balita, pastinya pernah mengalami lah ya, rumah wangi, aroma terapi alami dari sang buah hati.. :) Ada yang mengatasinya atau mencegahnya dengan memberi anak popok sekali pakai maupun yang bisa dicuci. Namun seiring bertambahnya usia buah hati, ga mungkin dong mereka terus-terusan memakai popok?..

Saatnya untuk mengajari mereka pipis dan pup di kamar mandi atau toilet.  Sebaiknya kapan sih waktu yang tepat buat melatih mereka untuk urusan yang satu ini?...

Menurut psikolog Ivonne Edr SPsi, kepala divisi TPA Ubaya, saat yang tepat untuk memulai toilet training adalah ketika anak dan orang tua sama-sama siap. ”Anak mulai bisa mengenali bahwa popok atau celananya basah atau kotor serta bisa mengeluarkan kata-kata sederhana seperti ’Ma, pipis’ . Sementara itu, bunda juga sedang tidak terikat dengan komitmen lain sehingga bisa fokus,” paparnya.
Ketika sedang stres dengan pekerjaan, pindahan rumah, atau masih harus membagi perhatian dengan hal-hal lainnya, punya bayi baru misalnya, orang tua dikhawatirkan tidak bisa fokus melatih si kecil belajar tentang kebersihan diri.

Memasuki usia 18 bulan, pada umumnya si kecil sudah mampu berjalan untuk menuju ke toilet, tentunya dengan pengawasan orang tua. Pada usia tersebut, dia juga mulai bisa mengenali ada rasa basah yang tidak nyaman di tubuhnya. Selain melihat kesiapan fisiknya, perhatikan juga kesiapan mental si anak. Sebab, seorang anak yang sudah siap secara fisik belum tentu siap meninggalkan kenyamanan popoknya.

Tahap awal, biasanya anak menunjukkan reaksi fisik atau tanda-tanda saat ada tekanan dari dalam tubuhnya. ”Tanda-tanda yang diperlihatkan setiap anak bisa jadi berbeda. Ortu harus peka mengenali ketika anak mengejan, meremas celananya, menyilangkan kaki, mundur ke pojok, atau bersembunyi. Tandanya dia akan BAK atau BAB,” urai Ivonne.

Isyarat tersebut merupakan salah satu tanda bahwa si anak siap melakukan toilet training. Tanda-tanda lainnya, antara lain, anak memiliki waktu yang teratur untuk BAK atau BAB. Anak mulai resah dan bereaksi keras ketika popoknya basah atau kotor.

Selain itu, anak cukup cekatan menaik-turunkan celananya sendiri. Anak dapat membedakan apa itu BAK dan BAB serta mampu mengatakan keinginannya untuk berganti popok. ”Awalnya mungkin hanya merengek. Lama-lama, dia bisa membedakan dan mengatakan kepada orang tuanya, ’Ma, mau pipis’ atau ’Ma, mau pup’” lanjutnya.

Ketika anak sudah bisa mengungkapkan, saatnya dia dilatih ke toilet. Dampingi anak, ajarkan untuk melepas celana, kemudian dudukkan di kloset dengan pengawasan. Setelah anak selesai BAK atau BAB, siramkan atau semprotkan air serta bersihkan bagian tubuhnya. Bila perlu, gunakan alat bantu seperti potty seat yang lebih nyaman dan sesuai ukuran si kecil.

Orang tua perlu fokus dan memiliki banyak waktu untuk melakukan toilet training kepada si kecil. Sebab, latihan itu tidak bisa dilakukan sekali-dua kali. Anak bisa saja menolak, cemberut, bahkan menangis karena tidak mau dilatih ke toilet.

”Orang tua harus sabar dan telaten. Kalau hari ini belum berhasil, coba besok, besoknya lagi. Jangan sampai memarahi atau membentak. Sebab, itu bisa menimbulkan trauma kepada anak. Nanti justru semakin sulit mengajarkan toilet training,” ujar psikolog pendidikan anak tersebut.

Buatlah suasana ke toilet seperti bermain. Misalnya, lengkapi toilet dengan benda-benda favorit si kecil berupa mainan atau buku cerita kesukaannya. ”Suasana yang menyenangkan buat si kecil mempermudah dia dalam menyukai latihan toilet yang diajarkan orang tua,” ucapnya.


Sumber:  http://www.ubaya.ac.id
               http://www.learningexpress.com

Senin, 01 Juli 2013

Homeschooling

Mama, Ummi, Bunda, Mami, dan Ibu, pasti sudah sering mendengar istilah homeschooling bukan?
Betul.., homeschool, atau sekolah rumah, adalah sebuah aktivitas untuk menyekolahkan anak di rumah secara penuh. Paham ini mungkin terlihat sedikit nyeleneh karena sementara semua orang menyekolahkan anaknya di sekolah umum, kok ada ya orang yang menyekolahkan anaknya di rumah. Bukankah itu sama saja dengan tidak sekolah. Pemikirin seperti ini terjadi karena ada sebuah proses ahistoris (terpotong dari sejarah) yang melupakan bahwa dulu sekolah memang di mulai dari rumah. Baru kemudian setelah guru menjadi sebuah profesi tertentu sekolah mulai berpindah ke sebuah gedung yang dinamai sekolah.



Sekarang, homeschooling mengalami comeback terutama di Amerika Serikat. Perubahan ini terjadi karena dunia pendidikan juga mengalami perubahan dalam abad terakhir ini, yaitu semakin sentralnya lembaga pendidikan di tangan negara. Homeschool adalah sebuah reaksi atas perubahan itu.

Ada beberapa alasan orangtua menghomeschoolingkan anaknya, antara lain:
  1. Sekolah tidak mengajarkan iman yang benar kepada anak saya. Terus terang ini sering menjadi alasan utama orang tua untuk men-sekolahrumah-kan anaknya. Paling tidak 80% penggiat homeschool di Amerika adalah golongan ini. Mereka ada penganut Kristen Evangelis dan Fundamentalis yang tidak ingin anaknya diajarkan sains yang bertentangan dengan kitab suci.
  2. Sekolah sebagai lembaga pendidikan sudah bobrok. Banyak bullying di sekolah. Guru-guru juga tidak bisa mendidik dengan baik, malah membuat anak stress. Belum lagi kalau sekolahnya suka tawuran dan rawan kriminalitas. Untuk kasus Indonesia, kemungkinan besar mereka menyekolahkan anaknya karena alasan ini, karena kecewa dengan lembaga pendidikan di sini.
  3. Tidak setuju dengan filosofi pendidikan yang diterapkan di sekolah. Sekitar 10% penggiat homeschooling di Amerika memiliki pandangan ini. Mereka memilih untuk menyekolahkan anaknya di rumah saja, dengan pendekatan pendidikan yang mereka sukai.
  4. Orang tua ingin mengambil tanggung jawab penuh atas pendidikan anaknya. Alasan ini sebenarnya bisa saja merupakan penjelasan lain dari ketiga alasan di atas.
Sedangkan beberapa penolakan atas homeschooling karena:
  1. Orang tua bukan guru profesional, bagaimana bisa mereka mendidik anaknya.
  2. Anak-anak nantinya tidak bisa bersosialisasi karena tidak bergaul dengan anak-anak sebayanya di sekolah.
  3. Tidak tahu harus memakai kurikulum apa.
  4. Biaya untuk membeli buku menjadi lebih besar karena tidak bisa meminjam buku dari sekolah.
Namun penolakan diatas sebenarnya ga perlu, karena:

Pertama, semua orang yang lebih tua sebenarnya adalah guru bagi yang lebih muda. Tidak ada orang yang tidak bisa mengajar. Semua orang yang bisa membaca bisa mengajar orang lain membaca. Begitu pula dengan berhitung dan lain-lain. Tetapi bagaimana dengan ilmu-ilmu yang sulit seperti fisika dan kimia? Di sinilah terletak kesalahpahamannya. Homeschooling bukan berarti orang tua mengajar anak, melainkan orang tua belajar bersama anak. Jadi tidak ada keharusan bahwa orang tua harus menguasai materi pelajaran. Kalau ada kesulitan dalam menguasai materi, bantuan bisa dicari kemudian.

Kedua, sekolah di rumah tidak berarti sang anak harus dikurung di rumah. Anak tetap bisa bebas bermain dengan tetangga, atau malah disekolahkan di sekolah non-formal yang lain seperti sekolah musik atau sekolah olahraga.

Ketiga, sekarang, dengan kemudahan teknologi informasi, akses akan kurikulum dapat diperoleh dengan mudah. Kelompok-kelompok orang tua yang menjalankan homeschooling juga sudah mulai bermunculan.

Keempat, biaya untuk homeschooling malah bisa lebih rendah, karena tidak harus keluar biaya gedung, seragam, uang transpor dan jajan. Memang belanja buku di awal akan terlihat besar, namun bila dibagi pertahun akan jauh lebih murah dari biaya sekolah total.

Homeschooling menuntut tanggung jawab yang besar dari orang tua akan perkembangan anaknya. Ini adalah komitmen yang tidak mudah, apalagi untuk orang kota. Jadi yang harus Mama lakukan jika ingin menerapkan homeschool buat anak adalah:
  1. Yakinkan diri Anda, bahwa Anda akan memprioritaskan waktu dan tenaga Anda untuk pendidikan anak Anda.
  2. Carilah informasi sebanyak-banyaknya sebelum memutuskan. Kalau bisa malah ngobrol dengan orang yang sudah menjalankannya.
  3. Cek di Dinas Pendidikan daerah Anda apakah anak Anda bisa mendapatkan ijasah formal atau persamaan dan bagaimana caranya, sebab ini berkaitan dengan kelanjutan studi anak Anda di jenjang yang lebih tinggi.
  4. Jangan memaksa anak untuk homeschool, berikan pengertian kepada dia. Jika ia lebih suka sekolah formal, biarkan saja. Kecuali bila anak sudah lebih besar, Anda bisa lebih memberikan pertimbangan lebih banyak kepada anak Anda, karena ia sudah bisa diajak berdialog dan berdebat bila perlu.

Sumber:  http://pendidikanklasik.wordpress.com


Minggu, 30 Juni 2013

Mengenalkan Puasa Pada Si Kecil

Alhamdulillah... Sebentar lagi Ramadhan datang. Mama pasti senang kan ya? Si kecil sudah terbiasa berpuasa belum ma...?



Puasa pada anak-anak menurut ahli kesehatan anak dapat diajarkan secara efektif sejak anak berusia 4 tahun. Mengajarkan anak untuk berpuasa sejak umur 4 tahun ini tentunya juga sangat berkaitan erat dengan faktor tumbuh kembang anak itu sendiri. Maksudnya adalah pada usia 4 tahun seorang anak memiliki kondisi tumbuh kembang yang harus jadi pertimbangan utama orang tua dalam mengajarkan puasa.

 Apa sih kondisi tumbuh kembang anak yang harus diperhatikan dalam mengajarkannya untuk berpuasa? Garis besarnya anak pada usia balita sedang mengalami pertumbuhan dan perkembangan tubuh yang tentunya memerlukan asupan nutrisi (zat makanan) yang mencukupi untuk jadi bahan dasar dan bahan bakar dari proses tersebut. Sebut saja misalnya, pada usia tersebut kerja dari enzim yang diproduksi dalam saluran cerna anak berbeda fungsi dengan orang dewasa. Pada anak selain untuk kerja sistem pencernaan, enzim yang terdapat dalam usus juga berfungsi untuk membantu proses tumbuh kembang yang ada. Kalau pada orang dewasa fungsi enzim saluran cerna untuk proses tumbuh kembang ini sudah tidak ada. Selain itu keseimbangan cairan anak juga berbeda dengan orang dewasa. Anak cenderung lebih banyak memerlukan cairan menurut perimbangan berat tubuh dan juga cenderung lebih mudah terkena dehidrasi dibandingkan dengan orang dewasa (bukan usia lanjut).

 Kalau kemudian ditanyakan apakah mungkin diajarkan sebelum usia 4 tahun?

 Para ahli kesehatan anak menyatakan sebaiknya jangan dahulu karena berkaitan dengan proses tumbuh kembang anak itu sendiri yang memang memiliki percepatan lebih besar dan juga berkaitan dengan proses pengenalan pola makan yang harus ditanamkan pada anak.

Dalam mengajarkan puasa pada anak juga harus diingat prosesnya harus bertahap dan jangan tiba-tiba. Bertahap disini maksudnya jangan langsung diajak puasa penuh selama kurang lebih 12 jam. Tapi bisa bertahap disesuaikan dengan kemampuan dari si anak dan yang lebih penting selalu dijelaskan bahwa saat itu sedang belajar puasa sesuai ajaran Islam. Jadi si anak pun mengerti kenapa dia tidak makan dan minum.

Proses bertahap ini penting untuk mengenalkan pola pada anak. Setelah pengenalan bertahap tersebut maka orang tua juga harus berperan untuk menentukan apakah si anak telah dapat mengerti puasa itu apa.

Kalau orang tua mampu mengkomunikasikan dengan baik kepada si anak mengenai puasa ini insya 4JJI anak pun akan melaksanakan dengan baik. Komunikasi yang paling baik menurut apa yang dicontohkan oleh ajaran islam sendiri adalah dengan contoh. Jadi ajarkan anak berpuasa saat orang tua juga puasa. Insya 4JJI jika anak diajarkan dengan baik sejak usia 4 tahun ini maka saat masuk usia baligh dimana dia sudah wajib untuk berpuasa penuh bukan merupakan beban lagi baginya.



Sumber: http://www.forkom-jerman.org
             http://layananqalbu.blogspot.com

Kamis, 27 Juni 2013

Bayi Nonton TV?..



Bayi nonton tv sepertinya pemandangan biasa saat ini. Kegiatan yang satu ini mungkin sering juga Mama berikan untuk si baby di rumah. Biasanya sih kalo lagi ada kerjaan yang harus segera diselesaikan sementara ga ada orang lain yang bisa nemenin bayi Mama bermain. Tul ga Ma?..

Ada yang bilang, bayi yang sering dikasih nonton tv akan menjadi bayi yang cerdas. Benarkah?

Penelitian yang baru-baru ini dipublikasikan dalam Journal of Pediatrics tidak menyetujui klaim para penghibur bayi ini. Menurut Frederic Zimmerman dari University of Washington yang menjadi kepala tim peneliti, justru untuk setiap 4 jam yang dilewatkan dalam sehari untuk menonton video dan DVD bayi oleh bayi yang berusia 8-16 bulan, akan mengurangi kemampuan anak memahami 6-8 kata dibanding bayi yang tidak menonton.
   
Masalahnya bukan terletak pada isi video yang sebetulnya cukup bagus, namun pada cara otak bayi berkembang. Otak bayi berkembang dengan sangat sensitif. Karena itu, sangat penting untuk bayi berkembang lewat stimulasi yang interaktif – yang bisa berubah sesuai dengan reaksi anak. Ini hanya bisa disediakan oleh orangtua atau pengasuhnya, bukan oleh TV yang cuma bisa menyediakan tayangan monoton.
   
Kelly Ross, MD, dokter anak dari Missouri yang juga ibu dari anak kembar tiga menegaskan, bayi belajar melalui gerakan dan eksplorasi langsung, bukan lewat pengamatan pasif. Begitu pula menurut Samantha Maplethorpe, MD, dokter keluarga dari Washington yang juga ibu tiga anak. Katanya, TV sebetulnya tidak memberikan keuntungan apa pun dan malah mencuri waktu belajar.
   
Memang sih, jadi ada waktu-waktu tenang jika bayi bisa menonton TV. Ini juga disetujui oleh Leslie Gavin, PhD, psikolog anak dari Florida yang juga ibu empat anak. Namun menurutnya, menonton tetap bukanlah cara belajar yang baik buat bayi kita.

Selanjutnya penelitian dari University of North Carolina di Chapel Hill, dan North Carolina, televisi dapat mengakibatkan kerewelan pada bayi.

Penelitian dilakukan pada 217 ibu bayi dari Negara Afrika dan Amerika yang berpartisipasi dalam Yayasan Perawatan Bayi dan Risiko Obesitas. Hasilnya, bayi yang menonton setidaknya 2,6 jam perhari selama tiga bulan cenderung mengalami obesitas dan tidak lulus dalam pendidikan sekolah. Selain itu, bayi lebih rewel dan sering menangis. Dampak dari tayangan televisi membuat bayi lebih aktif dan agresif, sebagaimana dilansir EmaxHealth.

Para peneliti menyimpulkan bahwa memahami karakteristik dari tayangan televisi memengaruhi perilaku dari sang bayi. Bayi cenderung tempramental jika melihat tayangan kekerasan. Tak hanya itu, frekuensi menonton yang berlebihan dapat membuat bayi jadi lebih rewel. Nah lo, nambah kerjaan dong jadinya..

Televisi secara mendasar tidak baik bagi otak bayi, demikian dikatakan oleh sejumlah dokter spesialis yang dimuat dalam majalah kedokteran Jerman Neu-Isenburg. "Acara khusus televisi dan DVD rancangan khusus bagi bayi yang mengklaim dapat meningkatkan perkembangan otak secara nyata lebih membawa pengaruh buruk bagi perkembangan otak bayi," demikian pernyataan dokter ahli yang dimuat dalam majalah Neu-Isenburg.

Bayi belajar mengalami gangguan dari televisi, demikian laporan ilmuwan yang mengacu kepada daya kerja otak yang merupakan penelitian Profesor Manfred Spitzer dari Ulm. Menurut Manfred Spitzer bayi tak dapat memproses rangkaian dari tampilan benda maupun suara dari televisi, demikian dikatakan. Spitzer mengatakan dalam satu penelitian di Amerika Serikat sekelompok bayi yang memiliki kisaran umur sembilan hingga 12 bulan dibacakan cerita dalam bahasa China sementara sekelompok bayi lainnya mendengarkan cerita yang sama dari sebuah televisi.

Bayi-bayi dari kelompok pertama dalam waktu dua bulan berselang dapat mengenali suara dalam bahasa China namun kelompok dua yang melulu hanya mendengarkan dan melihat tampilan layar di televisi tidak mempelajari apapun. Para peneliti otak mengatakan bahwa letak televisi yang salah dapat berbahaya apabila seorang dewasa membacakan cerita bagi bayinya.

Jumlah perbendaharaan kata anak-anak yang banyak melihat acara Baby TV atau DVD yang khusus diperuntukkan bagi bayi adalah 20 persen lebih rendah dari jumlah kata yang dimiliki anak-anak secara rata-rata.

Jadi jika ingin memberikan pelajaran pada bayi melalui cerita, lebih baik secara langsung Mama yang bercerita. Bukan melalui tontonan televisi walaupun itu program khusus bayi.



Sumber: http://www.parenting.co.id
               http://health.okezone.com
               http://health.liputan6.com


Senin, 24 Juni 2013

Seberapa Pentingkah Tidur Siang Bagi Balita?


Berdasarkan hasil penelitian University of Arizona, tidur siang menambah kemampuan anak usia 15 bulan untuk memproses informasi yang dia dapatkan dan mengaplikasikan pengetahuan itu pada suasana baru. Satu kali tidur siang yang sehat (atau dua kali) membantu anak agar tidur lebih nyenyak di malam hari. Anak di bawah 2 tahun yang tidur kurang dari 12 jam per hari, sudah termasuk tidur siang, punya risiko dua kali lipat kelebihan berat badan pada usia 3 tahun. Dan bukti klinis kini menunjukkan bahwa anak yang cukup tidur siang cenderung lebih tidak rewel sepanjang hari.

Sedangkan penelitian yang dilakukan Medical School Harvard University menunjukkan bahwa anak yang rutin tidur siang memiliki pertumbuhan tubuh yang lebih optimal dibandingkan dengan anak yang nggak mau tidur siang. Hal ini diakibatkan oleh hormon pertumbuhan atau yang disebut human-Growth Hormone (h-Gh) lebih aktif mengalir dalam darah saat anak tidur siang. Hormon ini diproduksi oleh otak dan bekerja sama dengan hormon lainnya, seperti hormon gondok, anak ginjal, tulang, dan otot, mereka membantu proses pertumbuhan tubuh anak.

Nah, dari penelitian-peneliti di atas sudah jelas bukan betapa pentingnya tidur siang bagi balita . Namun adakalanya sikecil tak mau tidur siang karena keasyikan main atau tak bisa tidur karena diganggu terus sama kakaknya atau Anda tak bisa menemaninya tidur siang karena punya jadwal lain. Jangan khawatir bunda, mama, berikut beberapa tips untuk membuat si kecil mau mengistirahatkan tubuhnya:

1. Sebisa mungkin buat kamar menjadi sejuk, gelap, tenang, dan nyaman, sehingga dia merasakan suasana malam hari, kata Pakkay Ngai, MD, pulmunolog anak dari Hackensack University Medical Center, New Jersey.

2. Cari peluang untuk membuat dia tidur,” kata penasihat Parents Jodi Mindell, PhD, penulis Sleeping Through the Night. Cari tanda-tanda anak kelelahan, seperti menguap atau rewel. Lalu tidurkan dia sesegera mungkin karena anak yang terlalu lelah bisa berperilaku enerjik dan hiperaktif.

3.  Biasanya anak lebih suka tidur pada jam-jam yang bisa diprediksi –biasanya sekitar pukul 9.30 dan 14.30 untuk bayi dan pukul 13.00 untuk batita dan balita. “Kenali pola biologis anak Anda dan tidurkan dia pada jam yang sama selama beberapa minggu,” kata Dr. Mindell. Bangunkan dia pada jam yang sama setiap hari jika dia tidak bisa bangun sendiri.

4. Sebagian anak tidak mempermasalahkan dimana mereka tidur. Namun sebagian lain menganggap tempat adalah masalah. Jika anak Anda termasuk dalam kategori kedua, usahakan dia selalu berada di rumah saat jam tidur siang.

5. Sebisa mungkin buat dia nyaman saat Anda sekeluarga sedang bepergian. Jangan lupa membawa selimut favoritnya, boneka kesayangan, dan (jika dia menggunakan) empeng.

6. Minta si kakak agar bermain dengan tenang di kamar saat Anda sedang menidurkan adik batita. Jika si kakak mengganggu adik, ajak kakak ke ruangan lain dan biarkan dia melakukan aktivitas yang aman hingga Anda selesai menidurkan adik. Jika kakak dan adik berbagi satu kamar, Anda bisa mencoba kiat ini: Minta kakak untuk pura-pura tidur saat adik mencoba tidur. Setelah beberapa menit, kakak boleh meninggalkan kamar -dengan tenang- dan menikmati waktu one-on-one bersama Mama.

Kalau beberapa tips di atas tak mempan juga, dan  Mama masih khawatir anak kurang istirahat, maka perhatikan saja jumlah jam tidurnya selama 24 jam. Para pakar sepakat bahwa kebutuhan tidur batita adalah 12 – 14 jam per hari. Jadi, jika anak pergi tidur pada pukul 8 malam dan baru bangun pada pukul 8 keesokan paginya, maka dia sudah mencukupi kebutuhan tidurnya dalam satu hari—meski tanpa tidur siang.



Sumber:  http://www.parentsindonesia.com
               http://www.parenting.co.id
               http://family.fimela.com