Minggu, 23 Juni 2013

Terkepung Asap



Yang bermukim di Riau dan sekitarnya tak bisa menghindar dari musibah tahunan ini. Selalu ajaa..ada masanya kabut asap menggila di bumi lancang kuning yang kata orang 'atas minyak bawah minyak ini'.Tentu saja kondisi ini mendatangkan gangguan kesehatan bagi warga.

Berikut gangguan kesehatan yang bisa dialami akibat kabut asap ini:

1. Kabut asap dapat menyebabkan iritasi pada mata, hidung, dan tenggorokan, serta menyebabkan reaksi alergi, peradangan dan mungkin juga infeksi.

2. Kabut asap dapat memperburuk asma dan penyakit paru kronis lain. Seperti bronkitis kronik, PPOK (Penyakit Paru Obstruktif Kronik).

3. Kemampuan kerja paru menjadi berkurang dan menyebabkan orang mudah lelah dan mengalami kesulitan bernapas.

4. Mereka yang berusia lanjut dan anak-anak (juga mereka yang punya penyakit kronik) dengan daya tahan tubuh rendah akan lebih rentan untuk mendapat gangguan kesehatan

5. Kemampuan paru dan saluran pernapasan mengatasi infeksi berkurang. Sehingga menyebabkan lebih mudah terjadi infeksi.

6. Secara umum berbagai penyakit kronik juga dapat memburuk.

7. Bahan polutan di asap kebakaran hutan yang jatuh ke permukaan bumi, kemungkinan juga dapat menjadi sumber polutan di sarana air bersih dan makanan yang tidak terlindungi.

8. Infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) jadi lebih mudah terjadi, terutama  karena ketidakseimbangan daya tahan tubuh (host), pola bakteri/virus dan lain-lain penyebab penyakit (agent) dan buruknya lingkungan (environment).


Ada asap, ada penyakit, tentu ada juga usaha kita untuk menghindari atau paling ga meminimalisir resiko penyakit yang akan menyerang. Kita intip yuuk..

Direktur Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan (P2PL) Kemenkes Tjandra Yoga Aditama berbagi tips untuk melindungi diri dari risiko gangguan kabut asap. Menurutnya, ada delapan hal yang bisa dilakukan. Yakni:

1. Sedapat mungkin Hindari atau kurangi aktivitas di luar rumah/gedung. Terutama bagi mereka yang menderita penyakit jantung dan gangguan pernafasan.

2. Jika terpaksa pergi ke luar rumah/gedung maka sebaiknya menggunakan masker.

3. Minum air putih lebih banyak dan lebih sering

4. Bagi yang telah mempunyai gangguan paru dan jantung sebelumnya, mintalah nasihat kepada dokter untuk perlindungan tambahan sesuai kondisi. Segera berobat ke dokter atau sarana pelayanan kesehatan terdekat bila mengalami kesulitan bernapas atau gangguan kesehatan lain.

5. Selalu lakukan perilaku hidup bersih sehat (PHBS). Seperti makan bergizi, jangan merokok, istirahat yang cukup dan lain-lain.
 
6. Upayakan agar polusi di luar tidak masuk ke dalam rumah/sekolah/kantor dan ruang tertutup lainnya

7. Penampungan air minum dan makanan harus terlindung baik.

8. Buah-buahan dicuci sebelum dikonsumsi. Bahan makanan dan minuman yang dimasak perlu di masak dengan baik.




Sumber:  http://www.republika.co.id


Sabtu, 22 Juni 2013

Berenang Yuuk!



Salah satu jenis olahraga yang dianjurkan untuk dilakukan secara rutin sejak usia dini adalah berenang. Sebuah penelitian terbaru   mengungkapkan, anak-anak yang belajar berenang sejak usia belia ternyata berkembang lebih cepat dan memiliki tingkat kecerdasan yang lebih tinggi ketimbang anak-anak seusianya.

Kesimpulan ini merupakan hasil riset yang digagas para ilmuwan dari Griffith Institute for Educational Research. Penelitian dilakukan dengan cara melakukan survey kepada 7.000 orang tua anak-anak dari Australia, Selandia Baru dan Amerika Serikat   Anak-anak yang diteliti dalam riset ini berusia rata-rata di bawah lima tahun dan penelitian dilakukan selama tiga tahun. Peneliti juga mengikutsertakan sebanyak 180 anak lainnya berusia 3-5 tahun untuk dites. Tujuannya, agar penelitian tentang manfaat berenang pada anak-anak ini menjadi lebih komprehensif.

Menurut  pemimpin riset Professor Robyn Jorgensen, hasil penelitian menunjukkan adanya perbedaan signifikan antara anak-anak yang berenang dan non perenang tanpa dipengaruhi oleh latar belakang sosial-ekonomi. Namun penelitian tidak menemukan adanya pengaruh jenis kelamin terhadap perkembangan dan kecerdasan.
 
Selain perkembangan dari segi fisik, kelompok anak yang belajar berenang mencatat skor yang lebih baik dalam kemampun visual motorik seperti memotong kertas, mewarnai dan menggambar garis dan bentuk, serta tugas matematika.  Mereka juga cenderung lebih ekspresif dalam perkataan, dan menunjukan kemampuan lebih baik dalam beberapa bidang terkait huruf dan angka.

"Kebanyakan dari kemampuan tersebut bernilai tinggi dalam lingkungan pembelajaran, dan akan dipertimbangkan bermanfaat bagi anak-anak ketika mereka beranjak dari masa pra-sekolah ke sekolah ," kata Jorgensen.

Ayah, Bunda, jangan malas ngajak si kecil berenang yaaa... :)


Sumber: http://health.kompas.com

Jumat, 21 Juni 2013

Bermain Itu Bikin Cerdas!

Dunia anak, hidup anak-anak, adalah bermain, bermain, dan bermain!.. Dengan bermain, otak mereka akan terstimulasi dengan optimal. Terutama dalam masa golden period 0-6 tahun. Tentu saja dengan permainan yang menyenangkan buat mereka, dan  pastinya ada bunda atau anggota keluarga lainnya yang bersedia menemani mereka bermain... :)



Alvin Rosenfeld, profesor pendidikan anak Universitas Stanford berpendapat, mainan yang
dirancang baik dan sesuai untuk anak usia dini dapat bantu kembangkan proses kognitif otaknya. Misalnya melalui permainan mencocokkan bentuk yang dapat melatih si kecil mengenali bentuk dan ukuran. Begitu juga bermain balok-balok kayu untuk melatih si kecil mengkoordinasi gerak motorik dan keseimbangannya.

Dr. Alvin Rosenfeld lebih jauh lagi berpendapat bahwa hal serupa juga ditemui pada permainan board games yang menantang si kecil untuk memecahkan masalah sederhana. Seperti mencari perbedaan pada sebuah gambar, atau mencari jalan keluar dari sebuah gambar labirin. Melalui aktivitas-aktivitas ini, otak si Kecil pun didorong untuk mencari solusi yang dibutuhkan. Sehingga, proses perkembangan kognitifnya pun berjalan dengan baik!






Bermain merupaka bagian integral dari masa kanak-kanak, suatu media yang unik untuk memfasilitasi perkembangan ekspresi bahasa, keterampilan komunikasi, perkembangan emosi, keterampilan sosial, keterampilan pengambilan keputusan, dan perkembangan kognitif pada anak-anak. Sedangkan permainan adalah semua media yang dipakai oleh anak untuk melakukan kegiatan bermainnya. Demikian kata Landreth, seperti yang disampaikan Muhamad Rizal, Psi pada Smart Parents Confrence.


Berikut contoh permainan sesuai dengan usia anak, dan kecerdasan apa yang bisa dikembangkan :

Usia 0 – 3 bulan
Pada usia ini, kemampuan bayi masih sangat terbatas, sehingga kita perlu berhati-hati dalam
melakukan permainan. Bayi baru mulai bisa membedakan warna, serta baru mulai melakukan interaksinya dengan dunia luar.

1. Kecerdasan Interpersonal dan Linguistik
Bercakap-cakap dengan bayi Anda, dalam bahasa yang singkat dan jelas. Misalnya “Ini Mama”. Sambil bercakap-cakap, arahkan wajah Anda berhadapan dengan wajahnhya. Permainan ini akan menjadi dasar kemampuan bahasa, serta dengan melakukan tatap muka, maka bayi mulai diajarkan untuk melakukan kontak dengan orang lain.

2. Kecerdasan Musikal
Perdengarkan musik bagi bayi Anda. Bunyi-bunyian yang memiliki ritme tetap juga akan membantu anak untuk belajar memahami bunyi.

3. Kecerdasan Spasial dan Kinestetik
  • Perdengarkan sumber suara, misalnya kerincingan, suara ibu atau ayah. Dan biarkan bayi mencari sumber suara. Ingat, respons bayi masih lambat, tidak heran bila ada jeda beberapa detik sebelum bayi memberikan respons. Lakukan dengan memindah-mindahkan sumber suara.
  • Bila memungkinkan, gantung mainan bayi di atas, lalu biarkan mainan itu bergerak memutar dan bersuara. Ini akan membuat bayi menggerakkan bola mata, dan menggerakkan kepala mengikuti sumber gerakan dan suara.
  • Berikan rattles, atau mainan lembut lainnya (soft toys), sehingga bayi mulai belajar menggenggam serta menggerakkan mainan tersebut.
  • Letakkan mainan di depan bayi dalam posisi telungkup dan dalam jangkauan, biarkan bayi mencoba maraih/mengambil mainan tersebut.


Usia 3 – 6 Bulan
1. Kecerdasan Spasial dan Kinestetik
  • Pasangkan sepatu/kaus kaki yang memiliki karakter atau figur tertentu pada bagian ujung, sehingga bayi tertarik untuk mengangkat kaki dan melihat karakter tersebut.
  • Bayi juga akan berusaha meraih kaus kakinya, ini akan melatih kecerdasan spasialnya.
  • Bunyikan mainan di sekitarnya, biarkan bayi mencari sumber suara, dan mencoba meraih mainan tersebut.
2. Kecerdasan Linguistik
  • Tirukan suara-suara yang keluar dari si bayi, bisa secara secara langsung, bisa juga dengan merekam dan meperdengarkan kembali.
  • Buat gerakan mengangguk, atau jawaban atas suara yang dihasilkan bayi, sehingga Anda seolah-olah sedang bercakap-cakap dengannya. Ini akan merangsang bayi untuk tetap mengeluarkan suara
  • Membaca buku juga akan merangsang anak untuk belajar kata-kata. Semakin sering kita membacakan buku, semakin banyak kata yang bisa diserap. Bacakan dengan perlahan, sambil memperlihatkan buku dan gambar-gambar di dalam buku tersebut. Selain mengembangkan kecerdasan linguistik, hal ini juga akan membantu mengembangkan kecerdasan interpersonal.

Usia 6 – 9 Bulan
Pada usia ini, bayi mulai belajar untuk duduk, merangkak, mulai belajar untuk berdiri. Dengan
demikian, variasi permainan bisa menjadi lebih luas lagi.
1. Kecerdasan Spasial dan Kinestetik
  • Berikan mainan yang bisa bergerak, seperti mobil-mobilan, dan jalankan mobil tersebut, biarkan bayi bergerak mengikuti arah mobil. Jangan terlalu jauh, sehingga sulit terjangkau, merasa frustrasi dan tidak ingin bermain.
  • Bermain dengan bola, terutama yang mudah digenggam, tidak besar, tetapi juga tidak terlalu kecil sehingga mudah dimasukan ke dalam mulut, sehingga bayi bisa mengeksplorasi dengan baik.
  • Untuk anak yang lebih besar dan sudah tumbuh gigi, coba berikan wadah berisi biskuit kecil dan biarkan si kecil mencoba mengambil dan belajar untuk memasukkan ke dalam mulut.
  • Anak yang sudah diberikan makanan pendamping ASI dan sudah mulai bisa duduk, ada baiknya juga didudukkan di kursi makan bayi (high chair), sehingga ia bisa belajar duduk dengan baik.
2. Kecerdasan Linguistik
  • Tetap berikan buku pada anak, agar ia terbiasa melihat gambar dan mendengarkan kata-kata.
  • Pilih mainan yang bisa bersuara, misalnya telepon-teleponan yang bisa mengeluarkan suara sehingga anak tertarik mendengarkan dan memainkan.
3. Kecerdasan Interpersonal
  • Melambai-lambaikan tangan, “gimme five”, atau salaman, akan merangsang anak menciptakan interaksi dengan orang lain.
  • Ajak anak bermain di taman dekat rumah, biarkan ia mulai mengenal orang lain di luar keluarga.
4. Kecerdasan Intrapersonal
  • Panggil namanya, biarkan ia memahami bahwa itu adalah namanya, dan tunggu sampai ia memberikan respons, misalnya dengan menoleh ke arah pemanggil.
5. Kecerdasan Naturalis
  • Bawa anak ke halaman rumah, perkenalkan dengan binatang piaraan, perkenalkan dengan tanaman dan pohon-pohon. Lihat reaksinya. Perhatikan, hati-hati dengan binatang peliharaan. Beberapa jenis anjing tidak terlalu bersahabat dengan bayi, sehingga bisa membuat bayi ketakukan. Perhatikan jarak aman.
5. Kecerdasan Logis Matematis
  • Berikan beberapa benda yang sama pada anak, misalnya bola. Lalu sambil memberikan pada anak, kita mulai menghitung “satu.. dua.” Anak mulai dikenalkan pada konsep angka.

Usia 9 – 12 bulan
1. Kecerdasan Kinestetik
  • Berikan anak mainan yang bisa didorong (misal walk & ride), sehingga anak belajar untuk berdiri dan mulai melangkah. Perhatikan bobot mainan, jangan sampai terlalu ringan, sehingga bisa membuat anak jatuh.
  • Bermain lempar bola. Ajarkan anak melempar bola.
  • Memainkan drum, melatih koordinasi tangan.
  • Belajar menyusun balok.
  • Ajak anak untuk menari dengan iringan lagu yang riang.

2. Kecerdasan Logis Matematis
  • Mengajarkan menyusun urutan balok, dari depan sampai terakhir, akan mengajarkan anak sekuensial.

3. Kecerdasan Interpersonal
  • Ajak anak untuk bermain dengan anak-anak sebaya. Tujuannya mengenalkan anak dengan anak lainnya, sehingga anak terbiasa dengan anak lainnya.
  • Ajak anak memberikan respons ketika dibacakan buku. Biarkan anak memilih buku yang diinginkan, lalu baca bersama-sama.
  • Bermain “ciluk baa” dengan tujuan melatih anak memberikan reaksi atas tindakan orang lain, dan sebaliknya.
4. Kecerdasan Naturalis
  • Ajak anak melihat lingkungan sekitar, melihat binatang, tanaman, alam lainnya. Bisa dengan mengajaknya ke kebun Binatang, piknik, atau melihat kegiatan berkebun.
  • Menonton film tentang binatang.
5. Kecerdasan Musikal
  • Putarkan lagu-lagu anak-anak, ajak mereka untuk mendengarkan dan menirukan lagu.
6. Kecerdasan Linguistik
  • Ajak anak bercakap-cakap sambil memainkan mainannya.
  • Tirukan suara mereka sambil menambahkan ekspresi muka, sehingga mereka senang dan mendapatkan penguatan untuk mengulangi lagi suaranya.

Usia 1 – 3 tahun
Pada saat ini, perkembangan kecerdasan anak sudah sangat maju dan kompleks, maka perlu
stimulasi yang lebih untuk mengembangkan mereka. Usia ini anak sudah mulai bisa berkomunikasi dalam bentuk percakapan sederhana, sudah memiliki kemampuan pemecahan masalah, dan ini saat yang tepat untuk mengembangkan kepercayaan dirinya.

1. Kecerdasan Kinestetik
  • Bermain bola, anak sudah mulai bisa menendang serta menangkap bola. Ajak mereka melakukan permainan bola. Permainan ini bisa menjadi permainan favorit mereka.
  • Anak sudah mulai bisa mengayuh sepeda, jadi tidak ada salahnya mulai memberikan mereka sepeda roda tiga. Jika orangtua memiliki sepeda, bisa bersepeda bersama, jika tidak, orangtua bisa mendampingi anak bersepeda.
  • Bermain panjat tangga serta perosotan.
  • Bermain petak umpet.
2. Kecerdasan Logis matematis
  • Bermain pasel (puzzle) sederhana (kurang dari 10 keping).
  • Bermain balok membentuk bangunan.
3. Kecerdasan Linguistik
  • Telpon mainan, melatih anak untuk bercakap-cakap.
  • Hand puppet.
  • Buku cerita bergambar.
4. Kecerdasan Interpersonal
  • Bermain peran.
  • Bermain dengan teman sebaya.
5. Kecerdasan Naturalis
  • Pergi ke kebun binatang.
  • Ajak anak untuk melakukan kegiatan berkebun ringan.
  • Pergunakan media buku atau kartu bergambar binatang.
6. Kecerdasan Musikal
  • Perdengarkan lagu, ajak anak bernyanyi bersama.
  • Memainkan alat musik, misalnya drum atau xylophone.
7. Kecerdasan Intrapersonal
  • Buku gambar dan krayon non toxic, sebagai media mengekspresikan diri dan mengembangkan imajinasi.

Sumber: Rizal, M, Psi. Seminar Smart Parent Conference. 24-26 Juli 2009. JHCC
               http://www.ayahbunda.co.id
               http://www.anakku.net

Kamis, 20 Juni 2013

Asisten Mama

Setrikaan numpuk, pakaian numpuk, belum lagi yang ngantri di bak cuci piring. "Oek..oek, oekk!", ups, si lima bulan pun ikut jerit-jerit karena belum juga direspon panggilannya oleh sang mama yang sedang nyapu..

Si tiga dan empat taun sudah bangun.. Ohh.. Alhamdulillah mereka dah bisa mandi sendiri!.. Tinggal si satu setengah taun yang harus dimandiin, eh yang lagi oek..oek juga.

:) , begitulah keseharian si supermom yang sebenarnya sering kehilangan supernya karena kecapean. Walaupun cape, ada-ada saja yang menyenangkan dari pasukan cilikku. Bagaimana tidak, si tiga dan empat taun sudah bisa bantu mamanya ngepel, nyapu, bantu jemur cucian, ngerapiin pakaian yang hendak disetrika.. Alhamdulillah... :)




Yap! Usia 3-4 tahun adalah masa anak-anak menginginkan otonomi yang lebih besar. Mereka ingin melakukan segala sesuatu sendiri! Jika ingin anak-anak kita menjadi anak yang mandiri, tidak manja, maka orangtua dan lingkungannya harus mendukung mereka untuk mengembangkan otonominya.
Jangan sampai karena alasan KASIAN, masih kecil!, sang anak tidak bisa melayani dirinya sendiri dan akan kerepotan ketika sudah besar nanti.

Lalu, jika mereka dibiasakan untuk mengerjakan hal-hal kecil yang memang sanggup mereka lakukan, asisten rumah tangga ngapain lagi dong?!.. Nah disinilah dituntut keberanian ayah dan bunda untuk tidak menggunakan jasa asisten rumah tangga. Setiap anggota keluarga harus dibiasakan untuk melayani diri sendiri. Bertanggung jawab dengan kebersihan dan kerapihan diri sendiri dan rumah. Kebayang dong repotnya jika sudah besar nanti mereka sekolah di luar negeri misalnya. Apa iya harus menyewa asisten rumah tangga. Ada ga ya?? Berapa coba biaya yang harus dikeluarkan?..

Jadi tak ada salahnya kan bun, membiasakan si kecil mengerjakan pekerjaan rumah tangga semampu mereka. Mereka pasti senang bisa menjadi asisten handal mamanya. Karena layaknya orang dewasa, anak kecil pun senang merasa berguna!..

Selamat bekerjasama dengan kru ciliknya ya bunda, ayah... :)


Rabu, 19 Juni 2013

Mimisan Pada Balita



Si kecil pernah mengalami mimisan?.. Bunda dan Ayah jangan panik dulu ya, jika terjadi hal ini pada sang buah hati.

Mimisan atau istilah medisnya epistaksis merupakan kondisi seseorang ketika darah keluar dari hidungnya. Apa saja penyebab mimisan?

Darah yang mengalir dari cuping hidung balita ini terjadi karena ada pembuluh darah balik kecil di hidung, bisa depan atau belakang, yang “pecah” atau robek. Kondisi ini biasanya akibat:
  • Terkena kuku saat balita membersihkan atau mengorek hidung  dengan jari.
  • Menghembuskan napas atau membuang ingus terlalu kuat.
  • Hidung terbentur sesuatu yang keras saat bermain atau terjatuh.
  • Kelelahan akibat keasyikan bermain.
  • Demam tinggi.

Biasanya ketika mendapati anak mengalami mimisan, saat itu juga kita menyuruhnya untuk mendongak agar darah berhenti mengalir. Padahal, hal ini berbahaya karena darah bisa masuk ke tenggorokan dan membuat anak jadi susah bernapas dan mual.

Dr Glen Ward, seorang dokter anak di Surrey, yang juga ketua penelitian The Canadian Paediatric Society Public Education Advisory Committee, mengatakan kalau sebagian besar masalah mimisan bukan masalah besar namun, tidak ada salahnya untuk mengecek seberapa sering dan berapa lama anak Anda mimisan.Jika mimisan yang anak Anda alami jarang terjadi, mungkin mimisan diakibatkan oleh udara kering atau alergi yang menyebabkan hidung anak gatal sehingga anak mengorek hidung terlalu dalam. Di negara Kanada, mimisan sering terjadi ketika udara kering tapi Ward mengatakan kalau udara lembab dapat memperburuk alergi dan menyebabkan mimisan juga."Sadari tingkat kelembaban di rumah Anda dan temukan keseimbangan yang tepat untuk keluarga Anda." kata Ward.

Tips berikut ini dapat dicoba jika anak Anda mengalami mimisan:
  • Minta balita duduk tegak, agak condong ke depan, sehingga aliran darah menjadi lebih lambat. Jangan membaringkan tubuhnya.
  • Minta balita bernapas lewat mulut.
  • Tekan cuping hidungnya dengan langkah-langkah yang sama seperti mengatasi mimisan pada bayi. Jika mungkin, ajarkan balita cara menekan kedua lubang hidungnya dengan menggunakan jari tangannya sendiri.
  • Saat balita menekan hidungnya sendiri, atau dengan bantuan Anda, alihkan perhatiannya dengan membacakan buku cerita, menonton TV, atau memutar film anak-anak.
  • Biasanya mimisan akan berhenti setelah  5–10 menit. 
  • Setelah mimisan berhenti, minta balita untuk tidak bermain “kasar” dulu, seperti lompat-lompat atau berlari, selama beberapa jam. Tujuannya, memberi waktu agar mimisannya benar-benar berhenti.
  • Katakan pada balita agar tidak menggunakan jarinya untuk membersihkan hidungnya, menghembuskan napas dengan keras, dan menggaruk lubang hidungnya selama beberapa hari.
  • Kalau setelah 30 menit mimisan belum juga berhenti, segera bawa anak ke dokter.

Penting juga dilakukan untuk mangajari anak cara mengatasi mimisan jika sedang tidak di rumah. Misalnya ketika mereka sedang berada di sekolah. Supaya  mereka paham apa saja yang harus segera dilakukan.


Sumber: http://www.ayahbunda.co.id
              http://www.liputan6.com
              http://family.fimela.com

Senin, 17 Juni 2013

Bolehkah Membentak Anak?




Ketika badan terasa letih, lelah, setelah melakukan sejumlah aktifitas, mama pasti ingin istarahat bukan? Namun si kecil belum mau istirahat. Masih pengen maeeen aja.... Inilah saatnya emosi bisa memuncak tiba-tiba. Sadar atau ga, keluarlah teriakan, bentakan, kepada si kecil yang tak berdosa. :(

Membentak anak, menurut  Vera Itabiliana Hadiwidjojo, Psikolog Anak dan Remaja dari Lembaga Psikologi Terapan Universitas Indonesia, akan membuat anak semakin membangkang, terlebih di saat anak sedang tidak tenang dengan luapan emosi tinggi. Nah, sama-sama emosi deh!..

"Anak memiliki emosi yang belum stabil,  dan belum dapat mengkomunikasikan dengan baik yang dirasakannya. Sehingga dibutuhkan pembelajaran emosi dengan verbalisasi emosi. Misal, anak marah, orang tua bisa mengatakan, 'oh, kamu sedang marah ya, atau begitu pula saat anak sedih. Namun tentu saja perkataan tadi tidak diucapkan ketika anak sedang mengalami luapan emosi. Tunggulah sampai ia tenang," jelas Vera saat ditemui pada acara "Media Coaching Clinic Lifebuoy & KidZania Jakarta", Kamis (20/12/2012).

Berikut beberapa cara yang dapat dicoba jika mama sedang emosi dan si kecil berulah:

*Ajarkan anak bersikap jika anak mulai berulah, posisikan diri Anda setinggi anak Anda kemudian lihat matanya. Bicarakan baik-baik pada anak kalau sikapnya tidak baik dan harus diperbaiki. Ajarkan bagaimana seharusnya ia bersikap. Cara ini lebih mengena pada anak dibandingkan Anda berteriak untuk memperingatkannya.

*Beri hukuman efektifJika cara di atas tidak berhasil dan malah membuat ulah anak semakin menjadi-jadi, mau tidak mau Anda harus memberikannya hukuman. Minta ia duduk di pojok hukuman selama beberapa menit, hingga emosinya dan Anda turun. Kemudian baru bicara baik-baik padanya, jangan lupa untuk mengungkapkan rasa sayang Anda padanya.

*Berikan peringatan Tekankan sampai tiga kali bagaimana seharusnya ia bersikap. Penelitian menunjukkan seseorang akan menanggapi serius sebuah peringatan jika disampaikan minimal tiga kali. Tanyakan juga alasan mengapa ia berulah, dengan begitu Anda bisa mengetahui penyebabnya. Anak pun merasa dihargai dan didengarkan pendapatnya.

Selamat belajar mengelola emosi ya mama.. :)


Sumber: http://female.kompas.com
              http://www.parenting.co.id

Minggu, 16 Juni 2013

Mengapa Asix??..





"Sik-asik, sik-asiik...", kata Ayu Ting Ting..
Yap, setiap orang pasti senang, suka, dengan yang aseek-aseek..
Nah asix yang ini khusus buat bunda dan babynya.. :)


Asix atau asi ekslusif 6 bulan penting karena:

• ASI mengandung sedikitnya 100 jenis bahan yang tidak ditemukan pada susu sapi dan tidak dapat ditiru dengan tepat oleh formula yang dijual.
• ASI lebih dapat dicerna daripada susu sapi, kandungan protein dalam ASI lebih rendah dari pada susu sapi.
• ASI tidak menimbulkan obesitas.
• ASI tidak menimbulkan alergi.
• Komposisi ASI pada saat mulai menyusui berbeda dengan komposisi pada akhir menyusui.
• ASI mengandung banyak zat pelindung yaitu immunoglobulin dan sel-sel darah putih hidup.
• ASI mengandung faktor bifidus, zat yang penting untuk merangsang pertumbuhan bakteri Lactobacillus bifidus yang membantu melindungi usus bayi dari peradangan.
• ASI hampir tidak pernah menimbulkan sembelit karena mudah dicerna, begitupun diare.
• ASI mengandung seperti garam mineral dari susu sapi, kelebihan sodium pada susu sapi sulit untuk diproses oleh ginjal bayi.
• ASI mengandung lebih sedikit fosfor.
• Bayi ASI lebih jarang sakit pada tahun pertama.
• Menyusu pada payudara membutuhkan lebih banyak usaha yang akan mendorong pertumbuhan gigi, tulang rahang dan langit-langit.
• ASI aman, tidak ada resiko kotor atau tumpah.
• Pemberian ASI sangat mudah, tidak butuh waktu persiapan layaknya susu formula.
• ASI ekonomis.
• Ibu yang menyusui mengurangi kemungkinan resiko terkena kanker payudara.
• Menyusui mempercepat proses pemulihan pada rahim dan pengeluaran lochia.
• Menyusui menekan terjadinya pembentukan telur dan menstruasi, sedikitnya sampai derajat tertentu.
• Menyusui dapat membakar lemak yang terkumpul selama kehamilan.
• Menyusui memperpanjang istirahat bagi ibu.
• Menyusui mendekatkan hubungan emosional dan kasih sayang antara ibu dan anak.



ASIX, minimal dalam 6 bulan pertama kehidupan bayi setelah keluar dari rahim ibu karena bayi berusia di bawah 6 bulan belum memiliki enzim pencernaan yang sempurna atau matang. Sedangkan di dalam ASI sudah terdapat enzim lipase yang membantu penyerapan nutrisi seperti lemak DHA dan AA. Tapi jika mengonsumsi susu formula yang berasal dari susu sapi, tidak terdapat enzim penyerapnya.


Soo... selamat berasix-asix ya bunda... :)



Sumber: http://www.lactamilmama.com